Latest Entries »

Profil P2 Kusta Kabupaten Kayong Utara Tahun 2009 – 2011

Jum’at, 11 November 2011 , 13:20:00

PERIKSA: M Trisno Yuwono SKM melakukan pemeriksaan terhadap penderita kusta di RBJ dan warga di sekitarnya –foto: Mik/Pontianak Post SUKADANA–

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara secara intensif melakukan pemeriksaan terhadap warga yang menderita penyakit kusta di Desa Riam Berasap Jaya (RBJ), Kecamatan Sukadana. Tak hanya mereka yang dinyatakan positif mengidap penyakit kulit dan menular itu, keluarga se rumah dan tetangga di sekitar korban kusta juga diperiksa untuk dipastikan apakah tertular atau tidak. Pada pemeriksaan yang dilakukan belum lama ini, Dinkes kembali menemukan dua korban baru yang tertular kusta di RBJ. Dua orang dimaksud merupakan anak dan cucu dari seorang ibu yang tinggal se rumah dan sudah puluhan tahun menjalani hidup bersama penyakit kusta. Sedangkan seorang ibu yang sekarang kondisi tubuhnya pada bagian tangan terlihat cacat sudah dinyatakan sembuh dari sakitnya. “Penyakit kusta ini sangat membahayakan jika tidak segera diobati karena bisa menimbulkan cacat pada tubuh,” jelas M Trisno Yuwono, SKM dari Dinkes Kayong Utara didampingi Perawat Puskesmas Siduk, Ariva Rizkya Shabry, AMd.Kep ditemui wartawan Koran ini saat melakukan pemeriksaan penderita kusta di RBJ, belum lama ini. Trisno menerangkan, kusta atau lepra disebabkan oleh infeksi yang diakibatkan bakteri mycobacterium leprae. Kusta termasuk penyakit menular yang penularannya sulit. Kondisi tubuh yang lemah serta kontak terus-menerus dalam waktu lama memudahkan penularan kusta. Namun, dikatakannya, kusta dapat diobati. “Gejala awal kusta, antara lain, kelainan kulit berupa bercak putih, seperti panu atau bercak kemerahan yang mati rasa, tidak ditumbuhi bulu, tidak mengeluarkan keringat, tidak gatal, dan tidak sakit,” jelas Trisno. Gejala lanjut, ditambahkan Trisno, ditandai kecacatan, seperti tidak bisa menutup mata, bahkan sampai buta, mati rasa pada telapak tangan, serta jari-jari kiting (kaku melingkar), memendek, bahkan putus. “Cacat kusta terjadi karena kuman menyerang saraf. Kondisi itu ditemui pada pengidap yang terlambat ditemukan dan diobati,” tandasnya. (mik)

Penyakit kusta adalah salah satu penyakit yang masih menjadi momok bagi masyarakat. Meski penyakit kusta tidak menyebabkan kematian, namun penderitanya bisa mati karena sanksi sosial berupa tindakan diskrimanasi pengucilan dari masyarakat. Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia sebagai penyumbang penderita kusta terbanyak. Meski angka penderita kusta dari tahun ke tahun terus menurun, posisi angkanya 1 berbanding 10 ribu di tiap provinsi. Tercatat angka penderita kusta di Indonesia mencapai 17 ribu orang pada tahun 2009.

Data dari Departemen Kesehatan (Depkes)/Kemenkes, secara nasional Indonesia sudah mencapai angka eliminasi kusta pada tahun 2000 lalu. Terdapat sekitar 20.000 kasus baru ditemukan setiap tahun atau sekitar 2 sampai 3 orang setiap jam atau 40 – 80 orang setiap harinya. Masih terdapat 14 provinsi dan 150 kabupaten yang belum mencapai eliminasi dan yang harus lebih intensif dalam pelaksanaan program kusta. Di Kabupaten Kayong Utara pada tahun 2010 di temukan sebanyak 14 kasus dan pada tahun 2011 sampai dengan bulan september ditemukan 10 kasus kusta, Untuk menekan jumlah tersebut, Dinas Kesehatan Kab. Kayong Utara program P2 Kusta akan menggalang program deteksi secara dini terhadap penyakit kusta dan memutus mata rantai penularan serta mencegah terjadinya kecacatan dengan kegiatan – kegiatan seperti Survei Kontak Serumah / Lingkungan, LEC, Survei Kontak Anak Sekolah dan juga akan mengadakan pendataan terhadap penderita kusta di desa – desa terutama orang-orang yang putus berobat dan memberikan pengobatan secara gratis terhadap para penderita kusta melalui puskesmas di wilayah Kabupaten Kayong Utara.

Epidemiologi Kusta

Penyakit kusta adalah jenis penyakit menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium Leprae yang menyerang saraf tepi seseorang sehingga mati rasa. Kuman mycobacterium Leprae yang berada didalam tubuh membutuhkan waktu lama untuk berkembang, bisa mencapai 5 tahun. Penyakit kusta adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernafasan atas, sementara lesi pada kulit adalah tanda yang bisa dilihat dari luar. Ciri-ciri orang yang terinfeksi penyakit kusta adalah adanya bercak putih kemerahan yang mati rasa. Bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak kemudian timbul bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit. Muka akan terlihat berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa) dan ada pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus seryta peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat.

Mycobacterium leprae sebagai kuman penyebab penyakit kusta adalah bakteri yang tahan asam, sejenis bakteri aerobik, gram positif, berbentuk batang dan dikelilingi oleh membrane sel lilin yang merupakan cirri dari mycobacterium. Bakteri sejenis ini dapat dikultur pada laboratorium.

Meski sejenis penyakit menular, namun menurut penelitian tidak semua  manusia di dunia yang bisa terinfeksi penyakit kusta. Setelah melalui penelitian dan pengamatan pada kelompok penyakit kusta di keluarga tertentu, tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman mycobacterium leprae menderita kusta. Karena itu ada dugaan, faktor genetika dan faktor gizi berperan dalam penyebaran penyakit kusta. Seseorang yang memiliki riwayat keturunan dan kekurangan gizi pada pola asupan makanan akan berpengaruh terhadap infeksi penularan penyakit kusta.

Berdasarkan manifestasi klinis, penyakit kusta dibedakan atas kusta tuberkuloid, kusta lepromatosa(penyakit Hansen multibasiler) dan kusta multibasiler (borderline leprosy). Kusta Tuberkuloid ditandai dengan satu atau lebih hipopigmentasi makula kulit dan bagian yang tidak berasa (anestetik). Sedangkan Kusta Lepormatosa dihubungkan dengan lesi, nodul, plak kulit simetris, dermis kulit yang menipis, dan perkembangan pada mukosa hidung yang menyebabkan penyumbatan hidung (kongesti nasal) dan epistaksis (hidung berdarah) namun pendeteksian terhadap kerusakan saraf sering kali terlambat. Sememntara Kusta Multibasiler, dengan tingkat keparahan yang sedang, adalah tipe yang sering ditemukan. Terdapat lesi kulit yang menyerupai kusta tuberkuloid namun jumlahnya lebih banyak dan tak beraturan; bagian yang besar dapat mengganggu seluruh tungkai, dan gangguan saraf tepi dengan kelemahan dan kehilangan rasa rangsang. Tipe ini tidak stabil dan dapat menjadi seperti kusta lepromatosa atau kusta tuberkuloid (Wikipedia).

Penyakit kusta sudah dikenal pada peradaban kuno di China, Mesir dan India sejak 300 sebelum masehi. Penyakit ini diduga berasal dari Afrika atau Asia Tengah yang kemudian menyebar ke seluruh dunia lewat perpindahan penduduk. Penyakit kusta masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke-4 atau Abad ke-5 yang diduga dibawa oleh orang-orang India yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan agamanya dan berdagang.

Namun baru pada tahun 1873 bakteri mycobacterium leprae yang menyebabkan penyakit kusta ditemukan pertama kali oleh seorang ilmuwan asal negara Norwegia bernama Gerhard Henrik Armauer Hansen. Sementara bakteri mycobacterium lepromatosis ditemukan oleh Universitas Texas pada tahun 2008 ketika sejenis kusta yang disebut diffuse lepromatous leprosy yang menyebar di Karibia dan Meksiko. Penyakit kusta kadang juga disebut Penyakit Hansen untuk menghargai penemu bakterinya sekaligus untuk menghilangkan stigma negatif dari masyarakat pada penderita kusta yang rawan pengucilan sosial. Istilah kusta berasal dari bahasa sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah penderita penyakit kusta mencapai dua sampai tiga juta jiwa yang menderita cacat permanen disebabkan oleh penyakit kusta. Negara dengan jumlah penderita terbesar di dunia adalah India, disusul Brasil dan Myanmar berdasarkan distribusi penyakit kusta pada tahun 2003. Pada tahun 2000, WHO membuat pemeringkatan Negara endemik penderita kusta di seluruh dunia, 70 persen kasus kusta terdapat pada negara India, Myanmar dan Nepal. Sementara pada tahun 2002, WHO menetapkan 90 persen kasus kusta terdapat di negara Brazil, Madagaskar, Tanzania dan Nepal.

Hingga tahun 1985, masalah kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat pada 122 negara. Maka pada tahun 1991, sebuah Pertemuan Kesehatan Dunia (WHA) ke-44 di Jenewa menghasilkan resolusi penghapusan penyakit kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2000. WHA memberikan mandat kepada WHO untuk mengembangkan strategi penghapusan kusta. Pada tahun 1995, WHO memberikan paket obat terapi kusta secara gratis pada negara endemik, melalui Kementrian Kesehatan masing-masing negara. Berdasarkan Weekly Epidemiological Record yang dilaporkan oleh WHO pada 115 negara dan teritori pada 2006 terdapat 219.826 kasus kusta. Tahun sebelumnya adalah 296.499 kasus. Penemuan secara global terhadap kasus baru menunjukkan penurunan.

Pencegahan dan Pengobatan

Pengobatan penyakit kusta dapat dilakukan dengan Multidrug Therapy (MDT) yang dapat menyembuhkan. Obat kusta bisa diperoleh dengan gratis di puskesmas terdekat. Keterlambatan seseorang penderita penyakit kusta dalam berobat dapat menyebabkan kecacatan. Kecacatan juga bisa terjadi apabila pengobatan tidak sempurna sehingga pengobatan tidak tuntas. Namun apabila segera meminum obat maka kecacatan dapat dihindari akibat saraf tepi yang mati rasa.

Terapi multiobat dan kombinasi tiga obat (rifampisin, klofazimin, dan dapson) direkomendasi oleh WHO pertama kali pada tahun 1981. WHO merekomendasikan dua tipe terapi multiobat standar. Pertama adalah pengobatan selama 12 bulan untuk kusta lepromatosa ( MB ) dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson. Kedua adalah pengobatan 6 bulan untuk kusta tuberkuloid ( PB ) dengan rifampisin dan dapson. 

Guna promosi kesehatan dalam pencegahan penyebaran penyakit kusta setiap tahun dilakukan kegiatan pada hari kusta sedunia, 25 Januari. Tahun 2011 dicanangkan sebagai tahun pencegahan kecacatan berupa mencegah kecacatan kusta dengan berobat secara dini, memberdayakan orang yang pernah mengalami kusta untuk dapat hidup mandiri dan mendapatkan keyakinan dan stop diskriminasi dan stigmasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta dan keluarganya. Kegiatan promosi kesehatan untuk menggalang komitmen para pengambil kebijakan, petugas di tim pelayanan kesehatan dan semua elemen masyarakat dalam rangka pengendalian penyakit kusta dan pencegahan kecacatan.

Bertepatan dengan peringatan Hari Kusta Sedunia ke 58 tahun 2011, Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih mencanangkan Tahun Pencegahan Cacat 2011. Tujuannya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dan seluruh stakeholder untuk membantu mencegah kecacatan akibat kusta. Kegiatan tahun pencegahan cacat mengarah pada petugas kesehatan untuk dapat mendeteksi dan menangani kusta dengan benar, agar tidak terjadi kecacatan lebih lanjut. Di Indonesia, tercatat 19 provinsi telah mencapai eliminasi kusta dengan angka penemuan kasus kurang dari 10 per 100.000 populasi, atau kurang dari 1.000 kasus per tahun. Sampai akhir 2009 tercatat 17.260 kasus baru kusta di Indonesia dan telah diobati. Saat ini tinggal 150 kabupaten/kota yang belum mencapai eliminasi. Sebanyak 1.500-1.700 (10%) kasus kecacatan tingkat II ditemukan setiap tahunnya. Sekitar 14.000 (80%) adalah kasus kusta MB, sedangkan sekitar 1500-1800 kasus merupakan kasus pada anak.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan regimen Multy Drug Therapy (MDT) sebagai pengobatan kusta. Sejumlah negara telah melaksanakan pengobatan MDT dan mencapai hasil memuaskan. Lebih dari 10 juta penderita telah disembuhkan. Dari jumlah itu lebih 1 juta penderita yang diselamatkan dari kecacatan. Berdasarkan keberhasilan tersebut, pada World Health Assembly (Sidang Kesehatan Sedunia-WHA) Mei 1991 dikeluarkan Resolusi No. 44.9 tentang Eliminasi Kusta Tahun 2000.

Eliminasi yaitu menurunkan angka kesakitan lebih kecil dari 1 per 10.000 penduduk dengan strategi penemuan penderita secara dini dan mengobati dengan tepat. Tujuan penanggulangan kusta di Indonesia adalah mencapai PR (Prevalens Rate) kurang dari 1 per 10.000 penduduk di semua kabupaten, dan kesinambungan program kusta di seluruh wilayah. Ditempuh melalui kebijakan deteksi dini kasus kusta dan pengobatan dengan MDT, mencegah kecacatan, mengubah image (pandangan) masyarakat luas dan menjamin ketersediaan dan kualitas obat kusta (MDT). Obat MDT diberikan secara gratis di Puskesmas. Dosis pertama harus diminum di depan petugas puskesmas dan untuk selanjutnya obat diminum sesuai petunjuk dalam blister.

Pada tahun 2006, WHO mengeluarkan panduan operasional “Global Strategy for Further Reducing the Leprosy Burden and Sustaining Leprosy Control Activities (2006 – 2010)”. Tujuannya untuk menurunkan lebih lanjut beban penyakit kusta dan mempertahankan kesinambungan kegiatan pemberantasan kusta sebagai acuan bagi negara-negara yang masih mempunyai masalah dengan penyakit ini. Tahun 2009, WHO mengeluarkan panduan operasional “Global Strategy for Further Reducing the Disease Burden Due to Leprosy (2011 – 2015)” . Dalam panduan tersebut ditetapkan target angka cacat yang kelihatan (Cacat 2) per 100.000 penduduk turun 35 % di tahun 2015 dari data tahun 2010.

Penyakit kusta adalah penyakit menular, menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh lainnya. Bila tidak terdiagnosis dan diobati secara dini, maka akan menimbulkan kecacatan menetap. Kusta bukan disebabkan oleh kutukan, guna-guna, makanan, atau penyakit keturunan seperti yang masih banyak timbul anggapan di masyarakat.

Penularan dapat terjadi karena kontak lama antara penderita kusta yang tidak diobati kepada orang yang sehat melalui pernapasan. Tidak semua orang serta merta tertular kusta begitu kontak dengan penderita. Secara statistik hanya 5% saja yang akan tertular. Dapat dikatakan penyakit kusta adalah penyakit menular yang paling rendah penularannya. Kemungkinan anggota keluarga dapat tertular, jika penderita tidak minum obat secara teratur.

Pemerintah telah melakukan sejumlah upaya untuk percepatan eliminasi kusta diantaranya dengan penemuan penderita secara aktif, membantu provinsi dan kabupaten dalam memberantas penyakit kusta dengan menempatkan konsultan lokal/Nasional yang berdomisili di Bandung, Surabaya, Palembang, Aceh, Samarinda, Makasar, Manado dan Jayapura dan konsultan Internasional yang berdomisili di Pusat serta melakukan kegiatan rehabilitasi.

Penetapan Hari Kusta (Leprosy Day) diorganisir oleh seorang wartawan berkebangsaan Perancis bernama Raoul Fallereau. Selama 30 tahun Raoul Fallereau (RF) mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan nasib penderita kusta. RF berjuang untuk menghilangkan stigma sosial di masyarakat. Pada tahun 1955, terdapat 150 radio dari 60 negara yang menyiarkan kampanye pemberantasan penyakit kusta. Peristiwa ini terjadi pada hari Minggu terakhir bulan Desember 1955. Karena itu di Eropa, Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) ditetapkan hari Minggu terakhir Desember. Sedangkan di negara-negara Asia, untuk mengenang jasa-jasa Mahatma Gandhi yang sangat menaruh perhatian dan besar jasanya kepada penderita kusta, Hari Kusta Sedunia ditetapkan pada Minggu terakhir Januari saat terbunuhnya Mahatma Gandhi.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon : 021-52907416-9, faks : 52921669, Call Center : 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail : puskom.publik@yahoo.co.id, info@depkes.go.id, dan kontak@depkes.go.id.

STRUKTUR ORGANISASI KKU 2011

Kaki gajah adalah penyakit akibat larva cacing filaria yang ditularkan oleh nyamuk, baik itu nyamuk rumah, got, hutan atau rawa. Cari tahu cara menghindarinya karena kalau sudah kena dan kaki terlanjur bengkak seperti gajah sulit untuk kembali normal dan menanggung derita seumur hidup.

Penyakit kaki gajah adalah penyakit yang sangat menyeramkan, karena selain mengganggu penampilan dan menyulitkan aktivitas, penderita juga biasanya mendapat stigma buruk dari lingkungan,

Tapi yang harus diketahui masyarakat adalah, seseorang yang sudah menderita kaki gajah atau yang kakinya sudah bengkak luar biasa, tidak bisa menularkan penyakitnya lagi. Justru mereka yang kelihatannya sehat dan belum mengalami pembengkakan, tapi punya larva mikrofilarialah yang bisa menularkan penyakit itu pada orang lain.

Masalahnya adalah, kita tidak pernah bisa tahu orang sehat mana saja yang sudah terinfeksi larva mikrofilaria. Padahal tiap hari nyamuk berkeliaran di sekitar kita. Oleh karena itu, seseorang dianjurkan untuk sebisa mungkin menghindari gigitan nyamuk dimana saja, bahwa yang menjadi penyebab kaki gajah sendiri bukanlah larva cacing filaria, tapi anak cacing filaria itu, yang disebut dengan larva mikrofilaria.

Untuk mengetahui apakah seseorang punya larva itu atau tidak, perlu dilakukan pemeriksaan larva dalam tubuh. Namun larva itu hanya bisa terdeteksi malam hari, karena mikrofilaria hanya keluar pada malam hari saja. “Jadi kalau mau dites harus malam hari, antara waktu magrib sampai subuh, cacing yang hidup dalam tubuh manusia itu seperti parasit. “Mereka hanya numpang, tidak berniat membunuh. Tapi dengan kehadiran mereka dalam tubuh, metabolisme tubuh jadi terganggu.

Kalau cacingnya filaria, maka larva mikrofilaria yang dibawa oleh nyamuk akan menyumbat pembuluh dan kelenjar limfe sehingga tidak bisa mengalir ke seluruh bagian tubuh dengan lancar. Akibatnya, terjadilah pembengkakan organ tubuh, seperti pada lengan, kaki atau alat kelamin.

Seseorang yang sudah terinfeksi larva mikrofilaria selam 10-14 hari adalah mereka yang paling berisiko sebagai mesin penular penyakit kaki gajah. “Mereka masih kelihatan normal dan tidak bergejala. Jadi satu-satunya cara untuk mencegah penularannya adalah memutus rantai penyebaran menggunakan obat. Ini akan lebih mudah ketimbang membunuh nyamuk pembawa larva itu yang jumlahnya sangat banyak.

Pada tahap awal, biasanya penderita akan mengalami demam berulang, ada benjolan yang terasa nyeri pada lipatan paha atau ketiak, dan teraba adanya urat seperti tali yang berwarna merah dan sakit mulai dari pangkal paha atau ketiak. Sedangkan pada tahap lanjut (kronis) akan terjadi pembesaran yang hilang timbul pada kaki, tangan, kantong buah zakar, payudara dan alat kelamin wanita.

Kalau benjolannya ditekan tapi balik lagi, itu masih bisa diobati dan disembuhkan total. Tapi jika sudah sangat parah bisa dioperasi, tapi itu pun hanya untuk memperbaiki penampilan saja, tidak bisa kembali ke bentuk normalnya.

Untuk itu, penggunaan obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dan Albendazole untuk mencegah penyebaran larva mikrofilaria sangat dianjurkan, terutama di daerah yang sudah mencapai tingkat endemi. “Disebut daerah endemi jika tingkat penyebarannya mencapai 1 persen.

Konsumsi obat harus dilakukan terus menerus selama setahun sekali, jika sudah 5 tahun cacing baru benar-benar mati. Meski ada efek samping setelah konsumsi obat, namun efek itu akan hilang dalam waktu 3-4 hari. “Lebih baik menderita 3 hari daripada menderita seumur hidup gara-gara penyakit itu.

Ada beberapa tempat yang dapat menjadi sarang nyamuk penular kaki gajah yaitu hutan, tanaman air, got/saluran air, rawa-rawa, hutan bakau dan sawah.

Agar aman dari gigitan nyamuk penyebab kaki gajah, cegah dengan cara:

  1. Tidur menggunakan kelambu
  2. Lubang angin (ventilasi) rumah ditutup kawat kasa halus
  3. Memasang obat nyamuk
  4. Memakai obat gosok anti nyamuk
  5. Membersihkan tempat-tempat perindukan nyamuk
  6. Melakukan penyemprotan untuk membunuh nyamuk dewasa
  7. Mengikuti program pengobatan massal filariasis di puskesmas
  8. Memeriksa diri ke puskesmas atau dokter bila tetangga atau keluarga terkena filariasis

APA ITU FILARIASIS ?

Filariasis adalah penyakit menular ( Penyakit Kaki Gajah ) yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Akibatnya penderita tidak dapat bekerja secara optimal bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain sehingga memnjadi beban keluarga, masyarakat dan negara. Di Indonesia penyakit Kaki Gajah tersebar luas hampir di Seluruh propinsi. Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang. Hasil survai laboratorium, melalui pemeriksaan darah jari, rata-rata Mikrofilaria rate (Mf rate) 3,1 %, berarti sekitar 6 juta orang sudah terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang mempunyai resiko tinggi untuk ketularan karena nyamuk penularnya tersebar luas. Untuk memberantas penyakit ini sampai tuntas

WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global ( The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health problem by The Year 2020 (. Program eliminasi dilaksanakan melalui pengobatan missal dengan DEC dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun dilokasi yang endemis dan perawatan kasus klinis baik yang akut maupun kronis untuk mencegah kecacatan dan mengurangi penderitanya. Indonesia akan melaksanakan eliminasi penyakit kaki gajah secara bertahap dimulai pada tahun 2002 di 5 kabupaten percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap tahun. Penyebab penyakit kaki gajah adalah tiga spesies cacing filarial yaitu; Wucheria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Vektor penular : Di Indonesia hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres yang dapat berperan sebagai vector penular penyakit kaki gajah.

Cara Penularan :
Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III ( L3 ). Nyamuk tersebut mendapat cacing filarial kecil ( mikrofilaria ) sewaktu menghisap darah penderita mengandung microfilaria atau binatang reservoir yang mengandung microfilaria. Siklus Penularan penyakit kaiki gajah ini melalui dua tahap, yaitu perkembangan dalam tubuh nyamuk ( vector ) dan tahap kedua perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) dan reservoair.
Gejala klinis Filariais Akut adalah berupa ; Demam berulang-ulang selama 3 ? 5 hari, Demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat ; pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiap (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit ; radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis) ; filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah ; pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema). Gejal klinis yang kronis ; berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti).

Diagnosis
Filariasis dapat ditegakkan secara Klinis ; yaitu bila seseorang tersangka Filariasis ditemukan tanda-tanda dan gejala akut ataupun kronis ; dengan pemeriksaan darah jari yang dilakukan mulai pukul 20.00 malam waktu setempat, seseorang dinyatakan sebagai penderita Filariasis, apabila dalam sediaan darah tebal ditemukan mikrofilaria. Pencegahan ; adalah dengan berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk vector ( mengurangi kontak dengan vector)

Tidak ada wilayah di Indonesia yang benar-benar aman dari serangan malaria, begitu juga yang dialami di beberapa negara lainnya.

Mengapa malaria sulit dibasmi?

Di dunia tercatat lebih dari 250 juta orang setiap tahun terinfeksi malaria, di Indonesia sendiri, 80 persen kabupaten masih termasuk endemis malaria dan 45 persen jumlah penduduk berisiko terkena malaria.

“Malaria masih menjadi masalah kesehatan terutama di wilayah luar Jawa Bali khususnya wilayah Indonesia bagian Timur. Indonesia bisa dibagi menjadi 3 wilayah yaitu endemis tinggi di Indonesia Timur, menengah di daerah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, serta rendah di wilayah Jawa Bali.

Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium. Di Indonesia ditemukan ke 4 spesies parasit.

Bahaya yang ditimbulkan oleh parasit tersebut adalah terjadinya anemia. Pada penderita malaria, sel-sel darah merah dirusak oleh plasmodium. Anemia dapat membuat produktivitas pekerja tidak optimal, serta mempengaruhi kecerdasan pada bayi dan anak usia sekolah.

Di daerah endemik, malaria menyebabkan bayi lahir dengan bobot rendah maupun lahir mati. Pada kehamilan bisa memicu anemia berat, yang turut menyumbang kasus kematian ibu hamil.

Malaria menjadi masalah yang sulit untuk ditanggani karena berbagai alasan. Berikut beberapa alasan mengapa malaria sulit dibasmi antara lain :

1. Parasit malaria hidup di dua tubuh makhluk hidup
Parasit malaria dapat bertahan hidup pada dua tubuh makhluk hidup, yaitu manusia sebagai tuan rumah yang menderita atau inang dan nyamuk Anopheles betina, hewan yang menyebarkan penyakit.

Hal ini membuat pengendalian malaria harus melibatkan tiga makhluk hidup, yaitu parasit itu sendiri, manusia dan nyamuk penyebar parasit.

2. Parasit malaria memiliki kemampuan besar untuk melarikan diri dari pertahanan manusia
Parasit malaria memliki sistem kekebalan tubuh yang kuat dan dapat bertahan dalam tubuh inang selama bertahun-tahun tanpa merugikan diri sendiri dan menyebar melalui nyamuk. Ini yang menjadi salah satu alasan mengapa vaksin terhadap malaria mungkin tidak efektif.

3. Obat antimalaria belum mampu mengendalikan parasit malaria
Obat antimalaria lini pertama yang murah dan aman, tidak begitu efektif di berbagai belahan dunia. Sedangkan obat yang baru masih sangat sedikit, mahal (untuk sebagian besar populasi yang menderita malaria) dan lebih toksik (beracun atau tidak aman).

4. Host atau manusia selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain
Manusia sebagai host (tuan rumah yang menderita malaria) selalu bergerak dan berpindah, membuat penyebaran malaria menyebar dari orang satu ke orang lainnya, tempat ke tempat lainnya, bahkan lintas benua.

5. Nyamuk sebagai pembawa parasit sangat banyak dan lebih beradaptasi dari manusia
Jumlah nyamuk setidaknya 40 kali lipat dibandingkan manusia. Mereka dapat hidup di banyak tempat seperti genangan air dan di sekitar pemukiman manusia. Beberapa nyamuk bahkan telah mengembangkan resistensi terhadap insektisida (pembasmi serangga).

Selain itu, untuk di Indonesia sendiri, beberapa alasan sulitnya memberantas malaria, yaitu:

  1. Perusakan lingkungan yang menyebabkan meluasnya tempat perindukan nyamuk
  2. Perpindahan nyamuk untuk bekerja dari tempat non endemis ke tempat endemis malaria
  3. Adanya krisis ekonomi dan terbatasnya dana menyebabkan kurangnya sumber daya (tenaga, sarana, biaya operasional dll)
  4. Kemiskinan dan kurang nutrisi menyebabkan lemahnya sistem imunitas
  5. Adanya resistensi parasit terhadap obat antimalaria yang ada (kloroquin)
  6. Resistensi nyamuk terhadap insektisida.

“Untuk itu malaria di Indonesia harus tetap diwasadai karena adanya migrasi penduduk dari daerah endemis rendah ke yang tinggi atau sebaliknya, ada perubahan lingkungan seperti pembabatan hutan, galian pasir, tambak, perkebunan (sawit, karet, salak dll) dan pertanian dengan sistem irigasi yang kurang baik, adanya resistensi obat antimalari kloroquin, resistensi terhadap insektisida serta ada faktor sosio ekonomi seperti kemiskinan, ketidaktahuan, serta faktor finansial untuk pengendalian malari secara tuntas.

Ada pula faktor geografis yang sulit dan ketersediaan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan untuk daerah DTPK (Daerah Terpencil Perbatasan Kepulauan) terutama di wilayah Indonesia Timur.

Untuk peningkatan sumber daya manusia bagi petugas kesehatan dalam pengendalian malaria, dilakukan pelatihan dasar malaria yang bertujuan eliminasi malaria 2030  di Indonesia dapat terwujud. Pelatihan dibuka oleh Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Ditjen PP dan PL, dr. Rita Kusriastuti, MSc. Pelatihan diselenggarakan di dua tempat yaitu di Jakarta dan di lampung dari tanggal 6-19 Maret 2011. Pelatihan diikuti oleh 29 peserta dari 17 provinsi yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kepri, Riau, Babel, Sumbar dan Lampung. Peserta pelatihan berasal dari pengelola program malaria di Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten/Kota.

Materi yang diberikan meliputi teori dan praktek sesuai dengan kurikulum, meliputi: Kebijakan Pengendalian Malaria, Epidemiologi Malaria, Penemuan Penderita Malaria, Survey Malaria, Pengobatan Penderita Malaria, Pemeriksaan Laboratorium,  Pengendalian Vektor, Pengenalan Vector Malaria, Teori dan Praktek IRS (Indoor Recidual Sprying), Larvaciding, Teori Dan Praktek Pemetaan Tempat Perindukan, Biological Control, Manajemen Lingkungan, Pengenalan Alat Semprot, Teknik Melatih Tenaga  Penyemprot, Surveilance Malaria, Pengumpulan, Pencatatan, Pengolahan dan Penyajian Data, Sistem Kewaspadaan Dini dan Penanggulangan KLB, Penyelidikan Epidemiologi, Perencanaan Malaria dan Studi Kasus serta Pemecahannya.
Kebijakan program malaria dalam mendukung eliminasi malaria adalah; diagnosa dini harus terkonfirmasi mikroskop atau RDT (rapid diagnostic test), penemuan dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt threatment/EDPT), pengobatan malaria positif dengan ACT (artemisinin combination therapy), pencegahan penularan melalui pendistribusian kelambu/LLIN, penyemprotan rumah, pengendalian lingkungan, penggunaan repelent  dan lain-lain, diadakan kerja sama lintas sektoral dan lintas program dalam forum gebrak (gerakan berantas kembali) malaria dan pemberdayaan masyarakat melalui pos malaria desa. 
Diharapkan dari pelatihan ini para peserta dapat mengimplementasikan ilmunya di daerah masing-masing sehingga target eliminasi malaria dapat tercapai sesuai dengan yang direncanakan.

Indonesia telah berhasil menekan jumlah kasus malaria dari 4,96 per 1.000 penduduk pada tahun 1990 menjadi 1,96 per 1.000 penduduk pada tahun 2010. Walaupun secara nasional telah berhasil menurunkan lebih 50 persen kasus malaria, tetapi pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih terjadi disparitas (perbedaan) yang cukup besar, kata Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH, pada puncak peringatan Hari Malaria Sedunia tanggal 25 April 2011 di Jakarta. Menurut Menkes, Indonesia telah menargetkan eliminasi malaria secara bertahap. Eliminasi artinya di daerah tersebut angka kasus malaria positif (API= Annual Parasite Incidence) kurang dari 1 permil (<1 per 1.000 penduduk).

Untuk wilayah Provinsi DKI Jakarta, khususnya Kab. Kepulauan Seribu saat ini dalam proses persiapan memasuki tahap eliminasi malaria disusul Provinsi Bali dan Pulau Batam.

Pada tahun 2015 ditargetkan Provinsi Aceh, Kepulauan Riau dan Pulau Jawa. Pada tahun 2020 untuk seluruh wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan NTB. Selanjutnya pada tahun 2030 wilayah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan NTT, sehingga seluruh Indonesia akan bebas malaria pada tahun 2030.

Menkes menyampaikan empat pesan sebagai pedoman eliminasi malaria. Pertama, eliminasi malaria merupakan salah satu prestasi masyarakat dan pemerintah dalam menyiapkan insan pembangunan. Sehingga dukungan berupa PERDA merupakan wujud nyata. Kedua, eliminasi malaria menjadi tanggung jawab semua pihak, oleh karena itu peran serta aktif masyarakat dalam upaya kesehatan secara promotif dan preventif harus terus ditingkatkan karena mencegah lebih baik dari pada mengobati. Ketiga, manfaatkan pemberdayaan masyarakat secara optimal melalui Desa Siaga dan Kelurahan Siaga Aktif, Posyandu, dan Pos Malaria Desa dalam upaya penyuluhan untuk pencegahan penyakit malaria. Keempat, optimalkan tiga pilar utama pengendalian malaria yaitu Stop Malaria Klinis dengan malaria konfirmasi, Stop Klorokuin gunakan Artesunate Combination Therapy (ACT) dan Cegah Malaria dengan menggunakan kelambu berinsektisida

Pada puncak peringatan Hari Malaria Sedunia 2011 dengan tema “Bebas Malaria Investasi Bangsa”, dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerjasama Kementerian Kesehatan dengan Pusat Kesehatan TNI, penyerahan Standard Operational Procedure (SOP) Pengendalian Malaria di lingkungan POLRI, penyerahan Pernyataan Dukungan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dalam tata laksana kasus malaria dan penyerahan ucapan terima kasih kepada tokoh masyarakat yang berkontribusi dalam pengendalian malaria.

Keterlibatan berbagai lintas sektor merupakan wujud nyata komitmen bersama untuk mengeliminasi malaria. “Momentum ini pertanda baik, karena TNI, POLRI dan IDI bersama masyarakat secara serentak akan memberikan dukungan. Untuk itulah, kami atas nama Kementerian Kesehatan menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala peran dan partisipasinya”, ujar Menkes.

Menkes menambahkan, penyakit Malaria merupakan salah satu penyakit re-emerging yang masih menjadi ancaman masyarakat, terkait masih tingginya angka kesakitan dan angka kematian pada usia produktif akibat malaria. Bahkan penyakit malaria juga berpengaruh pada kualitas kesehatan bayi, anak balita dan ibu hamil.

“Di beberapa wilayah prevalensi ibu hamil dengan malaria sebesar 18 persen, sehingga bayi yang dilahirkan memiliki risiko berat badan lahir rendah (BBLR) dua kali lebih besar dibandingkan ibu hamil tanpa malaria. Selain itu masih seringnya Kejadian Luar biasa yang dilaporkan oleh kabupaten/kota”, ujar Menkes.

Data WHO menyebutkan tahun 2010 terdapat 544.470 kasus malaria positif di Indonesia, sedangkan pada tahun 2009 terdapat 1.100.000 kasus malaria klinis, dan pada tahun 2010 meningkat lagi menjadi 1.800.000 kasus malaria klinis dan telah mendapatkan pengobatan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: