Latest Entries »

http://www.equator-news.com/kayong-utara/20130418/keluarga-pengidap-kusta-tinggal-di-gubuk

http://m.equator-news.com/kayong-utara/20130226/pemkab-lakukan-kajian-rsud

http://www.equator-news.com/patroli/20130211/dokter-puskesmas-sukadana-tewas-tenggelam

image

http://m.equator-news.com/kayong-utara/20130126/kku-target-bunuh-anjing-500-ekor

Gawat! KKU KLB DBD

Rabu, 5 Desember 2012

 pengasapan-di-rumah-rumah-penduduk-di-kecamatan-sukadana

Bupati Instruksikan Fogging Seluruh Desa Kamiriluddin Pengasapan di rumah-rumah penduduk di Kecamatan Sukadana Sukadana – Di akhir tahun 2012, KKU memproklamasikan diri berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD). Dinas Kesehatan (Dinkes) KKU merilis, hingga minggu 47 terdapat 160 suspect DBD dan 88 kasus di antaranya positif dengan dua kasus meninggal dunia pada Agustus dan Oktober. Sedangkan dari data kasus DBD tiap kecamatan, terdapat 7 kasus di Puskesmas Sukadana, 8 kasus di Puskesmas Siduk, 7 kasus di Puskesmas Teluk Melanau, 60 kasus di Puskesmas Teluk Batang dengan 1 kasus meninggal dunia, 4 kasus di Puskesmas Telaga Arum (Kecamatan Seponti) dengan 1 kasus meninggal dunia. Sedangkan dari data suspect DBD berdasarkan pemeriksaan RDT Igg/IgMdan NS1 oleh tenaga laboratorium puskesmas, terdapat 14 kasus di Puskesmas Sukadana, 8 kasus di Puskesmas Siduk, 11 Puskesmas Teluk Melanau, 34 Puskesmas Teluk Batang, 5 kasus Puskesmas Telaga Arum. “KLB ini sudah kami sampaikan ke bupati. Beliau menginstruksikan untuk segera melakukan fogging (pengasapan, red) ke 43 desa se-KKU,” kata Agus Rudi Suandi, Kabin Yankes mewakili Kepala Dinkes KKU, Selasa (4/12). Selain itu sambungnya, Bupati H Hildi Hamid juga telah merekomendasikan untuk penggunaan anggaran tanggap bencana sebesar Rp 200 juta untuk penanganan KLB di KKU. “Kami sudah tidak lagi menunggu kasus dinyatakan positif, jika terdapat kabar ada kasus DBD, kami langsung action (bekerja) untuk fogging. Itu juga tidak lagi fogging fokus, tapi merata di radius lebih dari seratus meter,” kata Agus kembali. Ditambahkannya, Bupati H Hildi Hamid juga menyampaikan agar Dinkes KKU dapat membuat program untuk tahun 2013 mendatang, agar di setiap desa terdapat satu unit alat fogging dan satu tenaga operator. Tujuannya supaya ke depan jika terdapat kasus DBD tidak lagi menunggu tindakan dari dinas, melainkan upaya masyarakat setempat untuk penanganan pertama. “Sampai saat ini terdapat 8.782 rumah sudah dilakukan fogging. Data tersebut belum termasuk dengan data fogging selama tiga hari terakhir, khususnya di wilayah kepulauan. Alasannya, saat ini di wilayah kepulauan yang merupakan wilayah yang tidak terjangkau sinyal handphone maupun telepon, juga tengah dilakukan fogging dan pembagian bubuk abate secara cuma-cuma kepada masyarakat,” paparnya. Upaya lain penanggulangan wabah DBD, sambungnya, yakni abatenisasi juga terus dilakukan. Bahkan dari data terakhir sebanyak 7.698 rumah sudah berhasil dilakukan abatenisasi. Kegiatan ini diharapkan dapat memutus siklus hidup nyamuk yang bersarang di tempat penampungan air di masyarakat. “Selain respons cepat dari pemerintah, Dinas Kesehatan KKU juga telah berkoordinasi dengan instansi terkait. Termasuk berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kalbar untuk penanganan status KLB DBD di KKU ini. Kita dapat bantuan alat dan racun Malathion dan beberapa alat lain,” tuturnya. (lud)

Selasa, 10 Juli 2012
Konsen Pemberantasan Penyakit Menular


Wasor Kusta Kabupaten Kayong Utara ; M.Trisno Yuwono, SKM

Mulai kemarin (9/7), Dinas Kesehatan (Dinkes) KKU memulai intensifikasi kusta, Tb paru, dan frambusia (penyakit kulit bahaya) tahun 2012 di sepuluh desa dari lima kecamatan. Ini bagian dari program pemberantasan penyakit menular.

Untuk Kecamatan Sukadana di Desa Riam Berasap Jaya, Pangkalan Buton, Pampang Harapan. Di Kecamatan Teluk Batang, intensifikasi dilaksanakan di Desa Teluk Batang Selatan, Teluk Batang Utara, Banyu Abang, Padu Banjar. Di Kecamatan Seponti, dilaksanakan di Desa Sungai Sepeti. Kecamatan Pulau Maya di Desa Dusun Besar dan Dusun Kecil.

Program pemberantasan penyakit (P2) kusta di Dinkes KKU dari tahun 2009-2011 sudah banyak melakukan kegiatan. Seperti penemuan penderita kusta antara lain penemuan penderita kusta secara aktif maupun pasif.

Pembinaan dan pengobatan penderita kusta selama 6-12 bulan. Pemeriksaan laboratorim (skinmaer). Pemeriksaan rutin dalam pencegahan reaksi kusta dan obat kusta. Konfirmasi diagnosis kusta oleh Wakil Supervisor (Wasor) Kusta KKU. Monitoring pencegahan cacat prevention of disability (POD), pencegahan cacat, dan pemeriksaan fisik secara rutin. Survei kontak anak sekolah. Penyuluhan terhadap masyarakat dan peran serta masyarakat tentang penyakit kusta dengan leprosy elimination champagne (LEC).

Pemeriksaan rutin secara pasif ke penderita kusta yang telah menyelesaikan pengobatan selama 2-5 tahun. Pelatihan dokter dan pengelola kusta puskesmas. Pelatihan Wasor kusta kabupaten. Pencatatan, pelaporan, dan manajemen logistik.

Pada umumnya penderita kusta merasa rendah diri. Merasa tekanan batin. Takut terhadap penyakitnya dan terjadinya kecacatan. Takut menghadapi keluarga dan masyarakat karena sikap penerimaan mereka kurang wajar.

Segan berobat karena malu, apatis, karena kecacatan tidak dapat mandiri sehingga beban bagi orang lain, seperti jadi pengemis, gelandangan.

Masalah terhadap keluarga seperti menjadi panik. Berubah mencari pertolongan termasuk dukun dan pengobatan tradisional. Keluarga merasa takut diasingkan oleh masyarakat di sekitarnya. Berusaha menyembunyikan penderita agar tidak diketahui masyarakat di sekitarnya. Mengasingkan penderita dari keluarga karena takut ketularan.

Pada umumnya masyarakat mengenal kusta dari tradisi kebudayaan dan agama. Sehingga pendapat tentang kusta merupakan penyakit sangat menular, tidak dapat diobati, penyakit keturunan, kutukan Tuhan, nasjid, dan menyebabkan kecacatan. Masyarakat mendorong agar penderita dan keluarganya diasingkan.

Penanggulangan penyakit kusta telah banyak didengar di mana-mana. Maksudnya mengembalikan penderita kusta menjadi manusia yang berguna, mandiri, produktif, dan percaya diri.

Metode penanggulangan ini terdiri dari metode pemberantasan dan pengobatan, rehabilitasi. Terdiri dari rehabilitasi medis, sosial, karya, dan pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir dari rehabilitasi. Di mana penderita dan masyarakat membaur sehingga tidak ada kelompok sendiri. Ketiga metode itu merupakan suatu sistem saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

Senin, 09 Juli 2012 , 09:24:00
Hari Ini, Itensifikasi Kusta Dimulai
Sasar Sepuluh Desa

BERFOTO BERSAMA: Kepala Dinas Kesehatan Rama Sebayang bersama Asisten II Setda Ismail dan staf ahli Kemenkes-RI dr Ade Irma serta staf Dinas Kesehatan Kalbar, pada acara Advokasi Kusta dan Frambusia di Sukadana, belum lama ini. M SURIMIK UNTUK PONTIANAK POST
SUKADANA – Sekitar 46 tenaga kesehatan dari tujuh puskemas di Kabupaten Kayong Utara akan mulai melakukan intensifikasi kusta dan frambusia atau penyakit kulit karena virus. Kegiatan ini serentak dilaksanakan di sepuluh desa yang diduga memiliki banyak penderita kusta dan frambusia, hari ini (9/7). Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara, Rama Sebayang, menerangkan bahwa tenaga kesehatan yang mengikuti intensifikasi tersebut merupakan tenaga terampil dan terdidik.

Alasannya, menurut Rama, para tenaga tersebut telah mengikuti kegiatan Sosialisasi dan Advokasi Lepra (Kusta) serta Tb Paru, 27 – 28 Juni silam di Balai Praja Sukadana. “Dalam intensifikasi ini diharapkan para tenaga kesehatan dapat bekerja maksimal. Supaya penyakit menular berbahaya dapat lekas ditanggulangi,” pintanya, beberapa hari lalu.

Dia tak menampik ketika seseorang yang merasakan dirinya menderita kusta, akan mengalami trauma kejiwaan atau psikis. Sebagai akibat dari trauma psikis ini pada penderita, antara lain mereka akan dengan segera mencari pertolongan pengobatan. “Kemudian ada juga yang mengulur-ulur waktu karena ketidaktahuan atau malu, bahwa dia atau kelurganya menderita kusta. Ada juga yang menyembunyikan atau mengasingkan diri dari masyarakat sekelilingnya, termasuk keluarganya. Dikarenakan berbagai masalah pada akhirnya penderita bersikap masa bodoh terhadap penyakitnya,” ungkap Rama.

Sebelumnya, Wakil Supervisor (Wasor) di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara, M Trisno Yuwono, mengungkapkan bahwa kegiatan intensifikasinya akan dimulai pada 9 Juli. “Direncanakan akan dilaksanakan di sepuluh desa di lima kecamatan yang ada kasus kusta sampai selesai. Jadi kerja intensifikasi lepra tidak akan selesai kalau belum menyisir semua penderita,” ungkapnya.

Diungkapkan dia bahwa sepuluh desa tersebut berada di Desa Riam Berasap Jaya, Pangkalan Buton, dan Pampang Harapan yang kesemuanya berada Kecamatan Sukadana, kemudian Teluk Batang Selatan, Teluk Batang Utara, Banyu Abang, Padu Banjar (Teluk Batang), Sungai Sepeti (Seponti), Dusun Besar, dan Dusun Kecil (Pulau Maya).

Ia mengupas dalam kurun waktu sepanjang 2009 – 2011 di Kabupaten Kayong Utara ditemukan sebanyak 32 penderita. “Target nasional harus di bawah 1 per-10 ribu penduduk. KKU 1,26 per-10 ribu penduduk. Kita masih berada di bawah target nasional,” jelasnya. Sedangkan untuk pemeriksaan frambusia atau penyakit menyerang kulit, akan menggunakan RDT (rapid diagnostic test/tes diagnosa cepat) pada anak usia di bawah 15 tahun (U-15). “Kalau sudah ditemukan langsung diobati di tempat pada saat kegiatan intensifikasi,” ucapnya.

Kusta Bisa Disembuhkan
Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Ditjen PP dan PL Kemenkes RI, M Subuh, menegaskan bahwa penyakit kusta atau lepra dapat disembuhkan.“Jangan kucilkan penderita kusta atau lepra, karena penyakit ini bisa disembuhkan,” ungkap mantan Direktur RSUD Soedarso Pontianak ini, saat bertandang ke Sukadana beberapa waktu lalu. Diterangkan mantan kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar tersebut, ada tiga isu terbesar anggapan masyarakat mengenai kusta. Tiga anggapan dimaksud yakni menimbulkan rasa malu, menimbulkan masalah dalam memperoleh jodoh, dan menyebabkan sulit dapat pekerjaan.

“Tantangan yang lain, kita harus mencapai target global yang sudah dicanangkan oleh WHO (organisasi kesehatan dunia, Red), menurunkan angka cacat tingkat 2 per-100 ribu penduduk, sebesar 35 persen di tahun 2015 dari data tahun 2010,” tegasnya. Proporsi kasus MB atau kusta basah, sambungnya, merupakan indikator untuk menggambarkan tingginya sumber penularan di masyarakat. “Indonesia termasuk etnis dengan proporsi MB tinggi dibanding negara lain seperti India, Nepal dan Banglades antara 40 – 60.

Situasi ini membuat beban penyakit kusta di Indonesia lebih besar dalam penularan dan penatalaksanaan kasus. Proporsi cacat tingkat dua, indikator untuk menilai kinerja petugas dalam penemuan kasus. Sedangkan proporsi anak merupakan indikator tingkat penularan kusta di masyarakat. Pencapaian kedua indikator tersebut masih di atas target indikator program, yaitu sebesar 5 persen,” paparnya.

Selama sebelas tahun terakhir, lanjut salah satu atlet bridge Kalbar ini, kedua indikator meskipun fluktuatif serta relatif menunjukkan peningkatan. Proporsi cacat tingkat dua pada tahun 2011 sebesar 10,1 persen atau sebanyak 2.025 kasus. Angka ini, menurut dia, lebih tinggi bila dibandingkan pada tahun 2000 yakni sebesar 8,38 persen atau 1.231 kasus. “Proporsi anak tahun 2011 mencapai 12,2 persen atau 2.452 kasus, juga lebih tinggi dibandingkan tahun 2000 sebesar 10,2 persen atau 1.499 kasus,” ucapnya.

Sebelumnya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara yakin bakal dapat menurunkan pederita kusta di enam kecamatan di kabupaten ini. Namun untuk mewujudkan itu, peran aktif berbagai pihak tentunya sangat diharapkan. Berdasarkan data yang mereka miliki, penderita kusta atau lepra yang teregristrasi dari tahun 2009 hingga 2011 adalah sebanyak 32 penderita. Jumlah itu terpapar dalam temuan mereka pada 2009 sebanyak 6 kasus atau penderita, kemudian tahun 2010 (14 penderita), serta 2011 mencapai (12 penderita).

“Angka prevelansi tahun 2009 sebesar 0,61 per-10 penduduk, tahun 2010 sebesar 1,41 persen, dan 2011 sebesar 1,26 per-10 ribu penduduk. Sedangkan target nasional harusnya 1 persen saja tiap per-10 ribu penduduk,” ungkap Rama Sebayang, kepala Dinkes Kabupaten Kayong Utara. Di era desentralisasi saat ini, diingatkan Rama bahwa pembangunan kesehatan merupakan tanggungjawab bersama, antara pemerintah dan masyarakat. Itu, menurut dia, menjadi satu kesatuan secara berkesinambungan.

“Hingga saat ini tak ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Hasil penelitian, kuman kusta yang masih utuh, bentuknya lebih besar kemungkinan menimbulkan penularan dibandingkan yang tidak utuh. Faktor pengobatan sangat penting untuk menghancurkan kusta, sehingga penularan dapat dicegah,” tutur Rama. Ia menganjurkan kepada para penderita untuk berobat secara rutin dan teratur. Pengobatan ke penderita kusta, menurut dia, merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan. Kuman kusta di luar tubuh manusia, dijelaskan dia, dapat dapat hidup selama 24 – 48 jam hingga tujuh hari. Ini, diingatkan dia, tergantung dari suhu dan cuaca di luar tubuh manusia itu.

“Makin panas cuaca, makin cepatlah kuman kusta mati. Jadi, dalam hal ini, pentingnya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya tempat-tempat lembab,” pesannya. Dijelaskan dia, ada beberapa obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta. “Akan tetapi kita tidak dapat menyembuhkan penyakit-penyakit kusta, kecuali masyarakat mengetahui ada obat penyembuh kusta dan datang ke puskesmas untuk diobati,” jelasnya kembali.

Dia memastikan bahwa telah tersedia obat yang dapat menyembuhkan kusta. “Sekurang-kurangnya 80 persen dari semua orang, tidak mungkin terkena kusta. Enam dari tujuh kusta tidaklah menular ke orang lain. Kasus-kasus menular tidak akan menular, setelah diobati enam bulan atau lebih secara teratur. Diagnosa dan pengobatan dini dapat mencegah sebagain besar cacat fisik,” tegasnya. (mik)

Jum’at, 20 Juli 2012 , 10:24:00
Dua Kasus Kusta Ditemukan di RBJ

TERSERANG KUSTA: Seorang pasien kusta ditemukan di Desa Riam Berasap Jaya, Kecamatan Sukadana. foto Mik/Pontianak Post
SUKADANA–Intensifikasi di desa Riam Berasap Jaya (RBJ) kecamatan Sukadana sejak Senin (16/7) sampai kemarin, berhasil ditemukan dua kasus kusta. Sedangkan intensifikasi frambusia (borok super besar) masih negatif. Petugas dari Puskesmas Siduk memeriksa lebih dari seratus warga desa RBJ. Kulit warga diperiksa kulit dan darahnya untuk menemukan dugaan kasus kusta.

Temuan kasus kusta menghinggapi orang yang sudah tua, bukan kanak-kanak. Sebelumnya berhasil ditemukan 17 penderita kusta, termasuk di dalamnya dua menyerang anak kecil. Ditambah dengan temuan di Desa RBJ, totalnya mencapai 19 penderita kusta. Sedangkan kasus frambusia di KKU, masih ditemukan satu kasus. “Intensifikasi kusta dan frambusia di KKU di tahun 2012 ini masih berjalan. Jadi ada kemungkinan penambahan jumlah penderita kusta dan frambusia,” ungkap M Trisno Yuwono MKM, Wakil Supervisor (Wasor) Dinas Kesehatan (Dinkes) KKU, kemarin (18/7). (mik)

Sabtu, 30 Juni 2012 , 12:31:00
Intensifikasi Kusta Sasar Sepuluh Desa

PEMETAAN KUSTA: (Kiri ke kanan) Kadinskes Kayong Utara Rama Sebayang, Wabup M Said Tihi, dan Dirjen P2ML Depkes-RI Muhammad Subuh pada acara Penutupan Sosialisasi dan Advokasi Lepra atau Kusta dan Tb paru, di Balai Praja Sukadana, Kamis (28/6) petang (kiri).. M SURIMIK UNTUK PONTIANAK POST
SUKADANA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara akan menggelar intensifikasi penyakit menular berbahaya, yakni kusta atau lepra dan Tb paru. Secara serentak, kegiatan tersebut dimulai di sepuluh desa dari lima kecamatan, 9 Juli mendatang. “Untuk kegiatan intensifikasinya akan dimulai 9 Juli 2012 di sepuluh desa di lima kecamatan yang ada kasus kusta sampai selesai. Jadi kerja intensifikasi lepra tidak akan selesai kalau belum menyisir semua penderita,” ungkap M Trisno Yuwono, wakil Supervisor (Wasor) di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara, Jumat (29/6), di Sukadana.

Diterangkannya, rincian sepuluh desa itu yakni Desa Riam Berasap Jaya, Pangkalan Buton, dan Pampang Harapan yang kesemuanya berada di Kecamatan Sukadana, kemudian Teluk Batang Selatan, Teluk Batang Utara, Banyu Abang, Padu Banjar (Kecamatan Teluk Batang), Sungai Sepeti (Seponti), Dusun Besar, dan Dusun Kecil (Pulau Maya).

“Kecamatan Kepulauan Karimata belum kita jajahi untuk intensifikasi karena pemetaan datanya masih dipusatkan di Kecamatan Pulau Maya. Namun bukan berarti kecamatan itu aman, karena kecamatan Kepulauan Karimata dekat dengan Kecamatan Pulau Maya yang memiliki kasus tertinggi penderita kusta atau lepra. Bahkan kecamatan Pulau Maya dianggap endemis KKU penyakit menular kusta ini,” tegasnya.

Untuk diketahui, dalam kurun waktu sepanjng 2009 – 2011, di kabupaten ini ternyata telah ditemukan sebanyak 32 penderita penderita. “Target nasional harus di bawah 1 per-10 ribu penduduk. KKU 1,26 per-10 ribu penduduk, masih di bawah target nasional. Jadi kita bersama pihak terkait masih perlu kerja keras,” akunya.

Sedangkan untuk pemeriksaan frambusia atau penyakit infeksi kulit karena virus, akan menggunakan RDT (rapid diagnostic test/tes diagnosa cepat) pada anak usia di bawah 15 tahun (U-15). “Kalau sudah ditemukan, langsung diobati di tempat pada saat kegiatan intensifikasi,” papar Trisno.

Para tenaga yang akan diturunkan dalam intensifikasi ini, sebelumnya telah mengikuti pelatihan selama dua hari, 27 – 28 Juni lalu, di Balai Praja Sukadana. Acara itu sendiri merupakan program Kementerian Kesehatan (Kemenkes), didukung dana Kerajaan Belanda melalui Nederland Leprosy Relief (NLR). Kegiatan itu sendiri menghadirkan pembicara dari NLR dr Qory Kutika MKes, dr Ade Irma MKes dari Subdit Kusta dan Frambusia di Kemenkes-RI, dan dr H Muhammad Subuh MPPM dari Dirjen P2ML (Pemberantasan Penyakit Menular Langsung) di Kemenkes-RI.

Pelatihan Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Tuberkulosis (TB) Paru dan Intensifikasi Kusta tersebut, diikuti 46 orang. Peserta yang hadir merupakan tenaga dokter hingga perawat di wilayah kerja Kayong Utara.

Seperti dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Tanjung Satai, Telaga Arum, Teluk Batang, Matan Jaya, hingga Siduk. Penutupan acara itu dihadiri Wabub Kayong Utara Muhammad Said Tihi, Kamis (28/6) lalu. “Kalau Rabu (27/6) kegiatannya sosialisasi dan advokasi. Sedangkan Kamis (28/6) kegiatannya on the job training,” ujarnya.

32 Kasus Kusta
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara, penderita kusta atau lepra yang teregristrasi sepanjang 2009 – 2011 adalah sebanyak 32 penderita. Pada tahun 2009 ditemukan penderita baru sebanyak enam orang, sementara tahun 2010, 14 penderita, dan 2011 mencapai 12 penderita.“Saya bergembira, sesuai laporan yang saya dengar dari panitia penyelenggara, dari 33 provinsi di Republik Indonesia, kegiatan ini diselenggarakan di tiga provinsi saja. Salah satunya Kalbar yang memilih KKU untuk melaksanakan kegiatan ini,” ungkap Bupati Kayong Utara Hildi Hamid saat membuka Pelatihan Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Tuberkulosis (TB) Paru dan Intensifikasi Kusta, di Balai Praja Sukadana, Rabu (27/6) lalu.

Acara ini diselenggarakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia bekerjasama dengan Kerajaan Belanda melalui Nederland Leprosy Relief (NLR), sebuah lembaga yang konsen penanganan lepra. Pelatihan tersebut menghadirkan pembicara dari Nederland Leprosy Relief (NLR) dr Qory Kutika, dr Ade Irma dari Subdit Kusta dan Frambusia (penyakit karena infeksi kulit) di Kemenkes-RI, dan dr H Muhammad Subuh MPPM dari Dirjen P2ML (Pemberantasan Penyakit Menular Langsung) di Kemenkes-RI.

“Kegiatan ini sangat penting karena ikhwal sosialisasi dan intensifikasi kusta, frambusia (penyakit karena kulit terinfeksi virus, Red), dan tubercolosis (Tb) paru. Kemudian mobilisasi pemerintah, petugas kesehatan, dan masyarakat. Guna mendukung penemuan secara aktif di KKU,” tegasnya. Di era desentralisasi saat ini, diingatkan Bupati bahwa pembangunan kesehatan merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Itu, menurut dia, menjadi satu kesatuan secara berkesinambungan. “Pada dasarnya kita ada dalam satu ruang kebersamaan yang harus bersinergi dan membangun kekuatan bersama. Untuk melaksanakan upaya pencapaian target MDGs sesuai proporsi, potensi, dan kemampuan daerah,” timpalnya.

Pemkab Kayong Utara diakui Bupati, tidak akan mungkin dapat melaksanakan kegiatan seperti ini tanpa melakukan kerjasama yang erat serta bahu-membahu, antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten. Di lain pihak, menurut dia, terdapat juga perbedaan permasalahan antarwilayah, meliputi geografis, sosial, dan budaya masyarakat.

“Sesuai dengan visi KKU, terwujudnya ‘masyarakat KKU yang beriman, sehat, dan sejahtera’. Didukung misi KKU di bidang kesehatan, meningkatkan pelayanan kesehatan untuk mewujudkan masyarakat yang sehat jasmani dan rohani,” yakinnya. Bupati menaruh harapan besar kepada para peserta kegiatan tersebut agar dalam sosialisasi dan intensifikasi kusta, frambusia, dan Tb paru ini, memberikan dukungan serta komitmen bersama, baik dari masyarakat, pemerintah daerah, dan stakeholders terkait, dalam penanggulangan penyakit menular langsung.“Marilah dengan semangat kemitraan kita selenggarakan pembangunan kesehatan. Demi terwujudnya masyarakat KKU yang beriman, sehat, dan sejahtera,” ajaknya. (mik)

%d blogger menyukai ini: