Latest Entries »

PERAN EPIDEMIOLOG KESEHATAN

Secara umum, dapat dikatakan bahwa tujuan yang hendak dicapai dalam epidemiologi adalah memperoleh data frekuensi, distribusi dan determinan penyakit atau fenomena lain yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, misalnya:
1. Penelitian epidemiologis yang dilakukan pada kejadian luar biasa akibat keracunan makanan dapat digunakan untuk mengungkapkan makanan yang tercemar dan menemukan penyebabnya.
2. Penelitian epidemiologis yang dilakukan untuk mencari hubungan antara karsinoma paru-paru dengan asbes, rokok dengan penyakit jantung dan hubungan-hubungan penyakit dan masalah kesehatan lainnya
3. Menentukan apakah hipotesis yang dihasilkan dari percobaan heawan konsisten dengan data epidemiologis
4. Memperoleh informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan, penanggualangan masalah kesehatan, serta menentuka prioritas masalah keseahatan masyarakat

Sedangkan tujuan epidemiologi menurut Risser (2000), Gordis (2000), Gerstman (1998), Kleinbaum (1982) dapat di simpulkan sebagai berikut :
• Mendeskripsikan Distribusi, kecenderungan dan riwayat alamiah suatu penyakit atau keadaan kesehatan populasi.
• Menjelaskan etiologi penyakit.
• Meramalkan kejadian penyakit.
• Mengendalikan distribusi penyakit dan masalah kesehatan populasi.

2. MANFAAT EPIDEMIOLOGI DALAM KESEHATAN MASYARAKAT
Apabila Epidemiologi dapat dipahami dan diterapkan dengan baik, akan diperoleh berbagai manfaat yang jika disederhanakan adalah sebagai berikut :

1. Membantu Pekerjaan Administrasi Kesehatan.
Yaitu membantu pekerjaan dalam Perencanaan ( Planning ) dari pelayanan kesehatan, Pemantauan ( Monitoring ) dan Penilaian ( Evaluation ) suatu upaya kesehatan.
Data yang diperoleh dari pekerjaan epidemiologi akan dapat dimanfaatkan untuk melihat apakah upaya yang dilakukan telah sesuai dengan rencana atau tidak (Pemantauan) dan ataukah tujuan yang ditetapkan telah tercapai atau tidak (Penilaian).

2. Dapat Menerangkan Penyebab Suatu Masalah Kesehatan.
Dengan diketahuinya penyebab suatu masalah kesehatan, maka dapat disusun langkah – langkah penaggulangan selanjutnya, baik yang bersifat pencegahan ataupun yang bersifat pengobatan.

3. Dapat Menerangkan Perkembangan Alamiah Suatu Penyakit.
Salah satu masalah kesehatan yang sangat penting adalah tentang penyakit. Dengan menggunakan metode Epidemiologi dapatlah diterangkan Riwayat Alamiah Perkembangan Suatu Penyakit ( Natural History of Disease ). Pengetahuan tentang perkembangan alamiah ini amat penting dalam menggambarkan perjalanan suatu penyakit. Dengan pengetahuan tersebut dapat dilakukan berbagai upaya untuk menghentikan perjalanan penyakit sedemikian rupa sehingga penyakit tidak sampai berkelanjutan. Manfaat / peranan Epidemiologi dalam menerangkan perkembangan alamiah suatu penyakit adalah melalui pemanfaatan keterangan tentang frekwensi dan penyebaran penyakit terutama penyebaran penyakit menurut waktu. Dengan diketahuinya waktu muncul dan berakhirnya suatu penyakit, maka dapatlah diperkirakan perkembangan penyakit tersebut.

4. Dapat Menerangkan Keadaan Suatu Masalah Kesehatan.
Karena Epidemiologi mempelajari tentang frekwensi dan penyebaran masalah kesehatan, maka akan diperoleh keterangan tentang keadaan masalah kesehatan tersebut. Keadaan yang dimaksud di sini merupakan perpaduan dari keterangan menurut cirri – cirri Manusia, tempat dan Waktu.

Perpaduan cirri ini pada akhirnya menghasilkan 4 ( empat ) Keadaan Masalah Kesehatan yaitu :

a. EPIDEMI
Adalah : Keadaan dimana suatu masalah kesehatan ( umumnya penyakit ) yang ditemukan pada suatu daerah tertentu dalam waktu yang singkat berada dalam frekuensi yang meningkat.

b. PANDEMI
Adalah : Suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan ( umumnya penyakit ) yang ditemukan pada suatu daerah tertentu dalam waktu yang singkat memperlihatkan peningkatan yang amat tinggi serta penyebarannya telah mencakup suatu wilayah yang amat luas.

c. ENDEMI
Adalah : suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan ( umumnya penyakit ) yang frekuensinya pada suatu wilayah tertentu menetap dalam waktu yang lama.

d. SPORADIK
Adalah : suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan ( umumnya penyakit ) yang ada di suatu wilayah tertentu frekwensinya berubah – ubah menurut perubahan waktu.

3. PERANAN EPIDEMIOLOGI DALAM KESEHATAN MASYARAKAT
Dalam bidang kesehatan, epidemiologi mempunyai peranan yang cukup besar karena hasilnya dapat digunakan untuk:
• Mengadakan anlisis perjalanan penyakit di masyarakat serta perubahan-perubahan yang terjadi akibat intervensi alam atau manusia
• Mendeskripsikan pola penyakit pada berbagai kelompok masyarakat
• Mendeskripsikan hubungan antara dinamika penududuk dengan penyebaran penyakit

Dari kemampuan epidemiologi untuk mengetahui distribusi dan faktor-faktor penyebab masalah kesehatan dan mengarahkan intervensi yang diperlukan maka epidemiologi diharapkan mempunyai peranan dalam bidang kesehatan masyarakat berupa
• Mengidentifikasi berbagai faktor penyebab maupun faktor risiko yang berhubungan dengan timbulnya penyakit dan masalah kesehatan lainnya
• Menerangkan besarnya masalah dan gangguan kesehatan serta penyebarannya dalam suatu penduduk tertentu
• Mengembangkan metodologi untuk menganalisis keadaan suatu penyakit dalam upaya untuk mengatasi atau menanggulanginya.
• Mengarahkan intervensi yang diperlukan untuk menanggulangi masalah yang perlu dipecahkan.
• Menyiapkan data dan informasi yang esensil untuk keperluan :
1. perencanaan,
2. pelaksanaan program,
3. evaluasi berbagai kegiatan pelayanan kesehatan pada masyarakat
4. menentukan skala perioritas kegiatan tsb.
• Membantu melakukan evaluasi terhadap program kesehatan yang sedang atau telah dilakukan.

4. MENGAPA PETUGAS KESEHATAN MEMBUTUHKAN PENGETAHUAN EPIDEMIOOGI ?
Untuk menjawab pertnaya tersebtu di atas apt di jelasakan melalui bebrapa hal berikut ini:
• Walaupun teknologi kedokteran telah menngalami kemajuan yang sangat pesat, tetapi masih banyak faktor penyebab penyakit yang belum terungkap terutama penyakit-penyakit kronis, dan penyakit yang belum pernah terjadi atau penyakit baru dan belum pernah di laporkan sebelumnya. Dalam hal demikian, pendekatan epidemiologi merupakan cara yang paling efektif dan efisien untuk mengungkapkan penyebabnya.
• Keberhasilan percobaan pengobatan penyakit atau pencegahan penyakit yang dilakukan di klinik atau di laboratorium masih harus di uji kemampuannya di masyarakat
• Frekuensi distribusi penyakit yang diperoleh di rumah sakit harus di sesuaikan dengan kondisi di masyarakat.
• Dalam upaya peningkatan derajat kesahatan masyarakat melalui pelayanan kesahatan di butuhkan informasi tentang yang terkena, jumlah orang yang terkena, dimana dan bilaman terkenanya. Penyebaran dan penyebabnya. Informasi tersebut dapat diperoleh melalui studi epidemiologis
• Dalam menghadapi masalah kesehatan masyarakat seperti pencegahan penyakit atau fenomena lain seperti ledakan penduduk dapat dilakukan dalam upaya imunisasi, penyaringan terhadap orang yang mempunyai risiko terkena suatu penyakit walaupun penyakit belum tampak, dan upaya keluarga berencana untuk mengatasi ledakan penduduk.

Iklan

http://www.equator-news.com/kayong-utara/20130418/keluarga-pengidap-kusta-tinggal-di-gubuk

http://m.equator-news.com/kayong-utara/20130226/pemkab-lakukan-kajian-rsud

http://www.equator-news.com/patroli/20130211/dokter-puskesmas-sukadana-tewas-tenggelam

image

http://m.equator-news.com/kayong-utara/20130126/kku-target-bunuh-anjing-500-ekor

Gawat! KKU KLB DBD

Rabu, 5 Desember 2012

 pengasapan-di-rumah-rumah-penduduk-di-kecamatan-sukadana

Bupati Instruksikan Fogging Seluruh Desa Kamiriluddin Pengasapan di rumah-rumah penduduk di Kecamatan Sukadana Sukadana – Di akhir tahun 2012, KKU memproklamasikan diri berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD). Dinas Kesehatan (Dinkes) KKU merilis, hingga minggu 47 terdapat 160 suspect DBD dan 88 kasus di antaranya positif dengan dua kasus meninggal dunia pada Agustus dan Oktober. Sedangkan dari data kasus DBD tiap kecamatan, terdapat 7 kasus di Puskesmas Sukadana, 8 kasus di Puskesmas Siduk, 7 kasus di Puskesmas Teluk Melanau, 60 kasus di Puskesmas Teluk Batang dengan 1 kasus meninggal dunia, 4 kasus di Puskesmas Telaga Arum (Kecamatan Seponti) dengan 1 kasus meninggal dunia. Sedangkan dari data suspect DBD berdasarkan pemeriksaan RDT Igg/IgMdan NS1 oleh tenaga laboratorium puskesmas, terdapat 14 kasus di Puskesmas Sukadana, 8 kasus di Puskesmas Siduk, 11 Puskesmas Teluk Melanau, 34 Puskesmas Teluk Batang, 5 kasus Puskesmas Telaga Arum. “KLB ini sudah kami sampaikan ke bupati. Beliau menginstruksikan untuk segera melakukan fogging (pengasapan, red) ke 43 desa se-KKU,” kata Agus Rudi Suandi, Kabin Yankes mewakili Kepala Dinkes KKU, Selasa (4/12). Selain itu sambungnya, Bupati H Hildi Hamid juga telah merekomendasikan untuk penggunaan anggaran tanggap bencana sebesar Rp 200 juta untuk penanganan KLB di KKU. “Kami sudah tidak lagi menunggu kasus dinyatakan positif, jika terdapat kabar ada kasus DBD, kami langsung action (bekerja) untuk fogging. Itu juga tidak lagi fogging fokus, tapi merata di radius lebih dari seratus meter,” kata Agus kembali. Ditambahkannya, Bupati H Hildi Hamid juga menyampaikan agar Dinkes KKU dapat membuat program untuk tahun 2013 mendatang, agar di setiap desa terdapat satu unit alat fogging dan satu tenaga operator. Tujuannya supaya ke depan jika terdapat kasus DBD tidak lagi menunggu tindakan dari dinas, melainkan upaya masyarakat setempat untuk penanganan pertama. “Sampai saat ini terdapat 8.782 rumah sudah dilakukan fogging. Data tersebut belum termasuk dengan data fogging selama tiga hari terakhir, khususnya di wilayah kepulauan. Alasannya, saat ini di wilayah kepulauan yang merupakan wilayah yang tidak terjangkau sinyal handphone maupun telepon, juga tengah dilakukan fogging dan pembagian bubuk abate secara cuma-cuma kepada masyarakat,” paparnya. Upaya lain penanggulangan wabah DBD, sambungnya, yakni abatenisasi juga terus dilakukan. Bahkan dari data terakhir sebanyak 7.698 rumah sudah berhasil dilakukan abatenisasi. Kegiatan ini diharapkan dapat memutus siklus hidup nyamuk yang bersarang di tempat penampungan air di masyarakat. “Selain respons cepat dari pemerintah, Dinas Kesehatan KKU juga telah berkoordinasi dengan instansi terkait. Termasuk berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kalbar untuk penanganan status KLB DBD di KKU ini. Kita dapat bantuan alat dan racun Malathion dan beberapa alat lain,” tuturnya. (lud)

Selasa, 10 Juli 2012
Konsen Pemberantasan Penyakit Menular


Wasor Kusta Kabupaten Kayong Utara ; M.Trisno Yuwono, SKM

Mulai kemarin (9/7), Dinas Kesehatan (Dinkes) KKU memulai intensifikasi kusta, Tb paru, dan frambusia (penyakit kulit bahaya) tahun 2012 di sepuluh desa dari lima kecamatan. Ini bagian dari program pemberantasan penyakit menular.

Untuk Kecamatan Sukadana di Desa Riam Berasap Jaya, Pangkalan Buton, Pampang Harapan. Di Kecamatan Teluk Batang, intensifikasi dilaksanakan di Desa Teluk Batang Selatan, Teluk Batang Utara, Banyu Abang, Padu Banjar. Di Kecamatan Seponti, dilaksanakan di Desa Sungai Sepeti. Kecamatan Pulau Maya di Desa Dusun Besar dan Dusun Kecil.

Program pemberantasan penyakit (P2) kusta di Dinkes KKU dari tahun 2009-2011 sudah banyak melakukan kegiatan. Seperti penemuan penderita kusta antara lain penemuan penderita kusta secara aktif maupun pasif.

Pembinaan dan pengobatan penderita kusta selama 6-12 bulan. Pemeriksaan laboratorim (skinmaer). Pemeriksaan rutin dalam pencegahan reaksi kusta dan obat kusta. Konfirmasi diagnosis kusta oleh Wakil Supervisor (Wasor) Kusta KKU. Monitoring pencegahan cacat prevention of disability (POD), pencegahan cacat, dan pemeriksaan fisik secara rutin. Survei kontak anak sekolah. Penyuluhan terhadap masyarakat dan peran serta masyarakat tentang penyakit kusta dengan leprosy elimination champagne (LEC).

Pemeriksaan rutin secara pasif ke penderita kusta yang telah menyelesaikan pengobatan selama 2-5 tahun. Pelatihan dokter dan pengelola kusta puskesmas. Pelatihan Wasor kusta kabupaten. Pencatatan, pelaporan, dan manajemen logistik.

Pada umumnya penderita kusta merasa rendah diri. Merasa tekanan batin. Takut terhadap penyakitnya dan terjadinya kecacatan. Takut menghadapi keluarga dan masyarakat karena sikap penerimaan mereka kurang wajar.

Segan berobat karena malu, apatis, karena kecacatan tidak dapat mandiri sehingga beban bagi orang lain, seperti jadi pengemis, gelandangan.

Masalah terhadap keluarga seperti menjadi panik. Berubah mencari pertolongan termasuk dukun dan pengobatan tradisional. Keluarga merasa takut diasingkan oleh masyarakat di sekitarnya. Berusaha menyembunyikan penderita agar tidak diketahui masyarakat di sekitarnya. Mengasingkan penderita dari keluarga karena takut ketularan.

Pada umumnya masyarakat mengenal kusta dari tradisi kebudayaan dan agama. Sehingga pendapat tentang kusta merupakan penyakit sangat menular, tidak dapat diobati, penyakit keturunan, kutukan Tuhan, nasjid, dan menyebabkan kecacatan. Masyarakat mendorong agar penderita dan keluarganya diasingkan.

Penanggulangan penyakit kusta telah banyak didengar di mana-mana. Maksudnya mengembalikan penderita kusta menjadi manusia yang berguna, mandiri, produktif, dan percaya diri.

Metode penanggulangan ini terdiri dari metode pemberantasan dan pengobatan, rehabilitasi. Terdiri dari rehabilitasi medis, sosial, karya, dan pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir dari rehabilitasi. Di mana penderita dan masyarakat membaur sehingga tidak ada kelompok sendiri. Ketiga metode itu merupakan suatu sistem saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

Senin, 09 Juli 2012 , 09:24:00
Hari Ini, Itensifikasi Kusta Dimulai
Sasar Sepuluh Desa

BERFOTO BERSAMA: Kepala Dinas Kesehatan Rama Sebayang bersama Asisten II Setda Ismail dan staf ahli Kemenkes-RI dr Ade Irma serta staf Dinas Kesehatan Kalbar, pada acara Advokasi Kusta dan Frambusia di Sukadana, belum lama ini. M SURIMIK UNTUK PONTIANAK POST
SUKADANA – Sekitar 46 tenaga kesehatan dari tujuh puskemas di Kabupaten Kayong Utara akan mulai melakukan intensifikasi kusta dan frambusia atau penyakit kulit karena virus. Kegiatan ini serentak dilaksanakan di sepuluh desa yang diduga memiliki banyak penderita kusta dan frambusia, hari ini (9/7). Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara, Rama Sebayang, menerangkan bahwa tenaga kesehatan yang mengikuti intensifikasi tersebut merupakan tenaga terampil dan terdidik.

Alasannya, menurut Rama, para tenaga tersebut telah mengikuti kegiatan Sosialisasi dan Advokasi Lepra (Kusta) serta Tb Paru, 27 – 28 Juni silam di Balai Praja Sukadana. “Dalam intensifikasi ini diharapkan para tenaga kesehatan dapat bekerja maksimal. Supaya penyakit menular berbahaya dapat lekas ditanggulangi,” pintanya, beberapa hari lalu.

Dia tak menampik ketika seseorang yang merasakan dirinya menderita kusta, akan mengalami trauma kejiwaan atau psikis. Sebagai akibat dari trauma psikis ini pada penderita, antara lain mereka akan dengan segera mencari pertolongan pengobatan. “Kemudian ada juga yang mengulur-ulur waktu karena ketidaktahuan atau malu, bahwa dia atau kelurganya menderita kusta. Ada juga yang menyembunyikan atau mengasingkan diri dari masyarakat sekelilingnya, termasuk keluarganya. Dikarenakan berbagai masalah pada akhirnya penderita bersikap masa bodoh terhadap penyakitnya,” ungkap Rama.

Sebelumnya, Wakil Supervisor (Wasor) di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara, M Trisno Yuwono, mengungkapkan bahwa kegiatan intensifikasinya akan dimulai pada 9 Juli. “Direncanakan akan dilaksanakan di sepuluh desa di lima kecamatan yang ada kasus kusta sampai selesai. Jadi kerja intensifikasi lepra tidak akan selesai kalau belum menyisir semua penderita,” ungkapnya.

Diungkapkan dia bahwa sepuluh desa tersebut berada di Desa Riam Berasap Jaya, Pangkalan Buton, dan Pampang Harapan yang kesemuanya berada Kecamatan Sukadana, kemudian Teluk Batang Selatan, Teluk Batang Utara, Banyu Abang, Padu Banjar (Teluk Batang), Sungai Sepeti (Seponti), Dusun Besar, dan Dusun Kecil (Pulau Maya).

Ia mengupas dalam kurun waktu sepanjang 2009 – 2011 di Kabupaten Kayong Utara ditemukan sebanyak 32 penderita. “Target nasional harus di bawah 1 per-10 ribu penduduk. KKU 1,26 per-10 ribu penduduk. Kita masih berada di bawah target nasional,” jelasnya. Sedangkan untuk pemeriksaan frambusia atau penyakit menyerang kulit, akan menggunakan RDT (rapid diagnostic test/tes diagnosa cepat) pada anak usia di bawah 15 tahun (U-15). “Kalau sudah ditemukan langsung diobati di tempat pada saat kegiatan intensifikasi,” ucapnya.

Kusta Bisa Disembuhkan
Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Ditjen PP dan PL Kemenkes RI, M Subuh, menegaskan bahwa penyakit kusta atau lepra dapat disembuhkan.“Jangan kucilkan penderita kusta atau lepra, karena penyakit ini bisa disembuhkan,” ungkap mantan Direktur RSUD Soedarso Pontianak ini, saat bertandang ke Sukadana beberapa waktu lalu. Diterangkan mantan kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar tersebut, ada tiga isu terbesar anggapan masyarakat mengenai kusta. Tiga anggapan dimaksud yakni menimbulkan rasa malu, menimbulkan masalah dalam memperoleh jodoh, dan menyebabkan sulit dapat pekerjaan.

“Tantangan yang lain, kita harus mencapai target global yang sudah dicanangkan oleh WHO (organisasi kesehatan dunia, Red), menurunkan angka cacat tingkat 2 per-100 ribu penduduk, sebesar 35 persen di tahun 2015 dari data tahun 2010,” tegasnya. Proporsi kasus MB atau kusta basah, sambungnya, merupakan indikator untuk menggambarkan tingginya sumber penularan di masyarakat. “Indonesia termasuk etnis dengan proporsi MB tinggi dibanding negara lain seperti India, Nepal dan Banglades antara 40 – 60.

Situasi ini membuat beban penyakit kusta di Indonesia lebih besar dalam penularan dan penatalaksanaan kasus. Proporsi cacat tingkat dua, indikator untuk menilai kinerja petugas dalam penemuan kasus. Sedangkan proporsi anak merupakan indikator tingkat penularan kusta di masyarakat. Pencapaian kedua indikator tersebut masih di atas target indikator program, yaitu sebesar 5 persen,” paparnya.

Selama sebelas tahun terakhir, lanjut salah satu atlet bridge Kalbar ini, kedua indikator meskipun fluktuatif serta relatif menunjukkan peningkatan. Proporsi cacat tingkat dua pada tahun 2011 sebesar 10,1 persen atau sebanyak 2.025 kasus. Angka ini, menurut dia, lebih tinggi bila dibandingkan pada tahun 2000 yakni sebesar 8,38 persen atau 1.231 kasus. “Proporsi anak tahun 2011 mencapai 12,2 persen atau 2.452 kasus, juga lebih tinggi dibandingkan tahun 2000 sebesar 10,2 persen atau 1.499 kasus,” ucapnya.

Sebelumnya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara yakin bakal dapat menurunkan pederita kusta di enam kecamatan di kabupaten ini. Namun untuk mewujudkan itu, peran aktif berbagai pihak tentunya sangat diharapkan. Berdasarkan data yang mereka miliki, penderita kusta atau lepra yang teregristrasi dari tahun 2009 hingga 2011 adalah sebanyak 32 penderita. Jumlah itu terpapar dalam temuan mereka pada 2009 sebanyak 6 kasus atau penderita, kemudian tahun 2010 (14 penderita), serta 2011 mencapai (12 penderita).

“Angka prevelansi tahun 2009 sebesar 0,61 per-10 penduduk, tahun 2010 sebesar 1,41 persen, dan 2011 sebesar 1,26 per-10 ribu penduduk. Sedangkan target nasional harusnya 1 persen saja tiap per-10 ribu penduduk,” ungkap Rama Sebayang, kepala Dinkes Kabupaten Kayong Utara. Di era desentralisasi saat ini, diingatkan Rama bahwa pembangunan kesehatan merupakan tanggungjawab bersama, antara pemerintah dan masyarakat. Itu, menurut dia, menjadi satu kesatuan secara berkesinambungan.

“Hingga saat ini tak ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Hasil penelitian, kuman kusta yang masih utuh, bentuknya lebih besar kemungkinan menimbulkan penularan dibandingkan yang tidak utuh. Faktor pengobatan sangat penting untuk menghancurkan kusta, sehingga penularan dapat dicegah,” tutur Rama. Ia menganjurkan kepada para penderita untuk berobat secara rutin dan teratur. Pengobatan ke penderita kusta, menurut dia, merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan. Kuman kusta di luar tubuh manusia, dijelaskan dia, dapat dapat hidup selama 24 – 48 jam hingga tujuh hari. Ini, diingatkan dia, tergantung dari suhu dan cuaca di luar tubuh manusia itu.

“Makin panas cuaca, makin cepatlah kuman kusta mati. Jadi, dalam hal ini, pentingnya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya tempat-tempat lembab,” pesannya. Dijelaskan dia, ada beberapa obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta. “Akan tetapi kita tidak dapat menyembuhkan penyakit-penyakit kusta, kecuali masyarakat mengetahui ada obat penyembuh kusta dan datang ke puskesmas untuk diobati,” jelasnya kembali.

Dia memastikan bahwa telah tersedia obat yang dapat menyembuhkan kusta. “Sekurang-kurangnya 80 persen dari semua orang, tidak mungkin terkena kusta. Enam dari tujuh kusta tidaklah menular ke orang lain. Kasus-kasus menular tidak akan menular, setelah diobati enam bulan atau lebih secara teratur. Diagnosa dan pengobatan dini dapat mencegah sebagain besar cacat fisik,” tegasnya. (mik)

Jum’at, 20 Juli 2012 , 10:24:00
Dua Kasus Kusta Ditemukan di RBJ

TERSERANG KUSTA: Seorang pasien kusta ditemukan di Desa Riam Berasap Jaya, Kecamatan Sukadana. foto Mik/Pontianak Post
SUKADANA–Intensifikasi di desa Riam Berasap Jaya (RBJ) kecamatan Sukadana sejak Senin (16/7) sampai kemarin, berhasil ditemukan dua kasus kusta. Sedangkan intensifikasi frambusia (borok super besar) masih negatif. Petugas dari Puskesmas Siduk memeriksa lebih dari seratus warga desa RBJ. Kulit warga diperiksa kulit dan darahnya untuk menemukan dugaan kasus kusta.

Temuan kasus kusta menghinggapi orang yang sudah tua, bukan kanak-kanak. Sebelumnya berhasil ditemukan 17 penderita kusta, termasuk di dalamnya dua menyerang anak kecil. Ditambah dengan temuan di Desa RBJ, totalnya mencapai 19 penderita kusta. Sedangkan kasus frambusia di KKU, masih ditemukan satu kasus. “Intensifikasi kusta dan frambusia di KKU di tahun 2012 ini masih berjalan. Jadi ada kemungkinan penambahan jumlah penderita kusta dan frambusia,” ungkap M Trisno Yuwono MKM, Wakil Supervisor (Wasor) Dinas Kesehatan (Dinkes) KKU, kemarin (18/7). (mik)

%d blogger menyukai ini: