Bidan di desa, dapat mendekatkan pelayanan secara terintegrasi dalam pemeriksaan kehamilan, skrining terhadap malaria dan pengobatan di daerah terpencil dan endemis malaria. Karena itu bidan mempunyai peran sangat besar dalam pengendalian malaria terutama yang dialami ibu hamil, kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, pada pembukaan Pertemuan Internasional MIP (Malaria in Pregnancy) atau Malaria dalam kehamilan di Bali tanggal 24 Februari  2010.

Kelompok kerja MIP adalah kelompok para ahli yang adalah negara-negara endemis malaria di dunia seperti regional Afrika, regional Asia Pasifik.

Indonesia saat ini telah melaksanakan kegiatan terintegrasi ”pencegahan dan pengobatan malaria pada ibu hamil di provinsi endemis malaria dengan melaksanakan pelatihan bagi para bidan di provinsi/ kabupaten/kota. Bidan yang dilatih adalah para bidan yang bertugas di Puskesmas dan bidan di desa agar mampu melakukan skrining dengan penggunaan RDT pada kunjungan pertama ANC (Ante Natal Care), penggunaan ACT (Artemisnin Combination Therapy) obat anti malaria dan penggunaan kelambu berinsektisida”, ujar Prof. Tjandra.

”Kegiatan terintegrasi ini selain untuk mendukung pencapaian target MDG’s No 4 – 5, yaitu menurunkan angka kematian ibu dan bayi juga  dalam rangka menuju Indonesia bebas malaria”, kata Prof. Tjandra Yoga.

Menurut Dirjen P2PL, malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di banyak negara, khususnya di wilayah sub-sahara Afrika. Setiap tahun terdapat 300-500 juta orang yang terinfeksi malaria. Dari jumlah itu,  kira-kira 1,5-2 juta mengalami kematian, sebagian besar diantaranya wanita hamil, bayi dan balita.  Sedangkan di Indonesia terdapat sekitar 95.000 ibu hamil terkena malaria (SKRT, 2001).

Pertemuan yang berlangsung sampai 27 Februari,  dihadiri para pakar kesehatan ibu dari WHO Pusat (Geneva), WHO Indonesia, RBM (Roll Back Malaria) Geneva, Unicef, MPS (Make Pregnancy Safer) Geneva, MIP JHPIEGO, RAOPAG/Afrika, MIPESA/Tanzania, ACT Malaria, Kamboja, Brazil, Solomon, Thailand, Kenya, Mozambique, PNG, juga peserta dari beberapa Universitas Notredame, USA, Queensland (Australia).

Peserta dari Indonesia yaitu  RS di Papua (Abepura, Timika), NTT, POGI, IBI, Eijkman dan unit terkait Kementerian Kesehatan (Direktorat Kesehatan Ibu, Direktorat Kesehatan Anak,   Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang dan Badan Litbangkes).

Dalam pertemuan ini membahas: Informasi terkini malaria dalam kehamilan di wilayah Asia-Pasifik dan Afrika dan identifikasi hambatan dan tindakan dalam pengembangan penanganan malaria dalam kehamilan, memperkuat kerjasama antara program malaria dan program kesehatan reproduksi serta kemitraan secara nasional dan internasional.

Juga bertukar pengalaman antara negara mengenai pengobatan, pencegahan malaria dalam kehamilan, pencegahan bagi ibu hamil dengan penggunaan kelambu berinsektisida, obat anti malaria. Selain itu juga digunakan untuk menjalin kerja sama antara program pengendalian malaria dan program kesehatan reproduksi, penelitian dan dukungan masyarakat /organisasi internasional.

Dirjen P2PL Kementerian Kesehatan mengharapkan pertemuan ini memberi sumbangsih penting bagi penanggulangan malaria di dunia.

Bidan di desa, dapat mendekatkan pelayanan secara terintegrasi dalam pemeriksaan kehamilan, skrining terhadap malaria dan pengobatan di daerah terpencil dan endemis malaria. Karena itu bidan mempunyai peran sangat besar dalam pengendalian malaria terutama yang dialami ibu hamil, kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, pada pembukaan Pertemuan Internasional MIP (Malaria in Pregnancy) atau Malaria dalam kehamilan di Bali tanggal 24 Februari  2010.

Kelompok kerja MIP adalah kelompok para ahli yang adalah negara-negara endemis malaria di dunia seperti regional Afrika, regional Asia Pasifik.

Indonesia saat ini telah melaksanakan kegiatan terintegrasi ”pencegahan dan pengobatan malaria pada ibu hamil di provinsi endemis malaria dengan melaksanakan pelatihan bagi para bidan di provinsi/ kabupaten/kota. Bidan yang dilatih adalah para bidan yang bertugas di Puskesmas dan bidan di desa agar mampu melakukan skrining dengan penggunaan RDT pada kunjungan pertama ANC (Ante Natal Care), penggunaan ACT (Artemisnin Combination Therapy) obat anti malaria dan penggunaan kelambu berinsektisida”, ujar Prof. Tjandra.

”Kegiatan terintegrasi ini selain untuk mendukung pencapaian target MDG’s No 4 – 5, yaitu menurunkan angka kematian ibu dan bayi juga  dalam rangka menuju Indonesia bebas malaria”, kata Prof. Tjandra Yoga.

Menurut Dirjen P2PL, malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di banyak negara, khususnya di wilayah sub-sahara Afrika. Setiap tahun terdapat 300-500 juta orang yang terinfeksi malaria. Dari jumlah itu,  kira-kira 1,5-2 juta mengalami kematian, sebagian besar diantaranya wanita hamil, bayi dan balita.  Sedangkan di Indonesia terdapat sekitar 95.000 ibu hamil terkena malaria (SKRT, 2001).

Pertemuan yang berlangsung sampai 27 Februari,  dihadiri para pakar kesehatan ibu dari WHO Pusat (Geneva), WHO Indonesia, RBM (Roll Back Malaria) Geneva, Unicef, MPS (Make Pregnancy Safer) Geneva, MIP JHPIEGO, RAOPAG/Afrika, MIPESA/Tanzania, ACT Malaria, Kamboja, Brazil, Solomon, Thailand, Kenya, Mozambique, PNG, juga peserta dari beberapa Universitas Notredame, USA, Queensland (Australia).

Peserta dari Indonesia yaitu  RS di Papua (Abepura, Timika), NTT, POGI, IBI, Eijkman dan unit terkait Kementerian Kesehatan (Direktorat Kesehatan Ibu, Direktorat Kesehatan Anak,   Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang dan Badan Litbangkes).

Dalam pertemuan ini membahas: Informasi terkini malaria dalam kehamilan di wilayah Asia-Pasifik dan Afrika dan identifikasi hambatan dan tindakan dalam pengembangan penanganan malaria dalam kehamilan, memperkuat kerjasama antara program malaria dan program kesehatan reproduksi serta kemitraan secara nasional dan internasional.

Juga bertukar pengalaman antara negara mengenai pengobatan, pencegahan malaria dalam kehamilan, pencegahan bagi ibu hamil dengan penggunaan kelambu berinsektisida, obat anti malaria. Selain itu juga digunakan untuk menjalin kerja sama antara program pengendalian malaria dan program kesehatan reproduksi, penelitian dan dukungan masyarakat /organisasi internasional.

Dirjen P2PL Kementerian Kesehatan mengharapkan pertemuan ini memberi sumbangsih penting bagi penanggulangan malaria di dunia.

Iklan