Sabtu, 30 Juni 2012 , 12:31:00
Intensifikasi Kusta Sasar Sepuluh Desa

PEMETAAN KUSTA: (Kiri ke kanan) Kadinskes Kayong Utara Rama Sebayang, Wabup M Said Tihi, dan Dirjen P2ML Depkes-RI Muhammad Subuh pada acara Penutupan Sosialisasi dan Advokasi Lepra atau Kusta dan Tb paru, di Balai Praja Sukadana, Kamis (28/6) petang (kiri).. M SURIMIK UNTUK PONTIANAK POST
SUKADANA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara akan menggelar intensifikasi penyakit menular berbahaya, yakni kusta atau lepra dan Tb paru. Secara serentak, kegiatan tersebut dimulai di sepuluh desa dari lima kecamatan, 9 Juli mendatang. “Untuk kegiatan intensifikasinya akan dimulai 9 Juli 2012 di sepuluh desa di lima kecamatan yang ada kasus kusta sampai selesai. Jadi kerja intensifikasi lepra tidak akan selesai kalau belum menyisir semua penderita,” ungkap M Trisno Yuwono, wakil Supervisor (Wasor) di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara, Jumat (29/6), di Sukadana.

Diterangkannya, rincian sepuluh desa itu yakni Desa Riam Berasap Jaya, Pangkalan Buton, dan Pampang Harapan yang kesemuanya berada di Kecamatan Sukadana, kemudian Teluk Batang Selatan, Teluk Batang Utara, Banyu Abang, Padu Banjar (Kecamatan Teluk Batang), Sungai Sepeti (Seponti), Dusun Besar, dan Dusun Kecil (Pulau Maya).

“Kecamatan Kepulauan Karimata belum kita jajahi untuk intensifikasi karena pemetaan datanya masih dipusatkan di Kecamatan Pulau Maya. Namun bukan berarti kecamatan itu aman, karena kecamatan Kepulauan Karimata dekat dengan Kecamatan Pulau Maya yang memiliki kasus tertinggi penderita kusta atau lepra. Bahkan kecamatan Pulau Maya dianggap endemis KKU penyakit menular kusta ini,” tegasnya.

Untuk diketahui, dalam kurun waktu sepanjng 2009 – 2011, di kabupaten ini ternyata telah ditemukan sebanyak 32 penderita penderita. “Target nasional harus di bawah 1 per-10 ribu penduduk. KKU 1,26 per-10 ribu penduduk, masih di bawah target nasional. Jadi kita bersama pihak terkait masih perlu kerja keras,” akunya.

Sedangkan untuk pemeriksaan frambusia atau penyakit infeksi kulit karena virus, akan menggunakan RDT (rapid diagnostic test/tes diagnosa cepat) pada anak usia di bawah 15 tahun (U-15). “Kalau sudah ditemukan, langsung diobati di tempat pada saat kegiatan intensifikasi,” papar Trisno.

Para tenaga yang akan diturunkan dalam intensifikasi ini, sebelumnya telah mengikuti pelatihan selama dua hari, 27 – 28 Juni lalu, di Balai Praja Sukadana. Acara itu sendiri merupakan program Kementerian Kesehatan (Kemenkes), didukung dana Kerajaan Belanda melalui Nederland Leprosy Relief (NLR). Kegiatan itu sendiri menghadirkan pembicara dari NLR dr Qory Kutika MKes, dr Ade Irma MKes dari Subdit Kusta dan Frambusia di Kemenkes-RI, dan dr H Muhammad Subuh MPPM dari Dirjen P2ML (Pemberantasan Penyakit Menular Langsung) di Kemenkes-RI.

Pelatihan Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Tuberkulosis (TB) Paru dan Intensifikasi Kusta tersebut, diikuti 46 orang. Peserta yang hadir merupakan tenaga dokter hingga perawat di wilayah kerja Kayong Utara.

Seperti dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Tanjung Satai, Telaga Arum, Teluk Batang, Matan Jaya, hingga Siduk. Penutupan acara itu dihadiri Wabub Kayong Utara Muhammad Said Tihi, Kamis (28/6) lalu. “Kalau Rabu (27/6) kegiatannya sosialisasi dan advokasi. Sedangkan Kamis (28/6) kegiatannya on the job training,” ujarnya.

32 Kasus Kusta
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara, penderita kusta atau lepra yang teregristrasi sepanjang 2009 – 2011 adalah sebanyak 32 penderita. Pada tahun 2009 ditemukan penderita baru sebanyak enam orang, sementara tahun 2010, 14 penderita, dan 2011 mencapai 12 penderita.“Saya bergembira, sesuai laporan yang saya dengar dari panitia penyelenggara, dari 33 provinsi di Republik Indonesia, kegiatan ini diselenggarakan di tiga provinsi saja. Salah satunya Kalbar yang memilih KKU untuk melaksanakan kegiatan ini,” ungkap Bupati Kayong Utara Hildi Hamid saat membuka Pelatihan Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Tuberkulosis (TB) Paru dan Intensifikasi Kusta, di Balai Praja Sukadana, Rabu (27/6) lalu.

Acara ini diselenggarakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia bekerjasama dengan Kerajaan Belanda melalui Nederland Leprosy Relief (NLR), sebuah lembaga yang konsen penanganan lepra. Pelatihan tersebut menghadirkan pembicara dari Nederland Leprosy Relief (NLR) dr Qory Kutika, dr Ade Irma dari Subdit Kusta dan Frambusia (penyakit karena infeksi kulit) di Kemenkes-RI, dan dr H Muhammad Subuh MPPM dari Dirjen P2ML (Pemberantasan Penyakit Menular Langsung) di Kemenkes-RI.

“Kegiatan ini sangat penting karena ikhwal sosialisasi dan intensifikasi kusta, frambusia (penyakit karena kulit terinfeksi virus, Red), dan tubercolosis (Tb) paru. Kemudian mobilisasi pemerintah, petugas kesehatan, dan masyarakat. Guna mendukung penemuan secara aktif di KKU,” tegasnya. Di era desentralisasi saat ini, diingatkan Bupati bahwa pembangunan kesehatan merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Itu, menurut dia, menjadi satu kesatuan secara berkesinambungan. “Pada dasarnya kita ada dalam satu ruang kebersamaan yang harus bersinergi dan membangun kekuatan bersama. Untuk melaksanakan upaya pencapaian target MDGs sesuai proporsi, potensi, dan kemampuan daerah,” timpalnya.

Pemkab Kayong Utara diakui Bupati, tidak akan mungkin dapat melaksanakan kegiatan seperti ini tanpa melakukan kerjasama yang erat serta bahu-membahu, antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten. Di lain pihak, menurut dia, terdapat juga perbedaan permasalahan antarwilayah, meliputi geografis, sosial, dan budaya masyarakat.

“Sesuai dengan visi KKU, terwujudnya ‘masyarakat KKU yang beriman, sehat, dan sejahtera’. Didukung misi KKU di bidang kesehatan, meningkatkan pelayanan kesehatan untuk mewujudkan masyarakat yang sehat jasmani dan rohani,” yakinnya. Bupati menaruh harapan besar kepada para peserta kegiatan tersebut agar dalam sosialisasi dan intensifikasi kusta, frambusia, dan Tb paru ini, memberikan dukungan serta komitmen bersama, baik dari masyarakat, pemerintah daerah, dan stakeholders terkait, dalam penanggulangan penyakit menular langsung.“Marilah dengan semangat kemitraan kita selenggarakan pembangunan kesehatan. Demi terwujudnya masyarakat KKU yang beriman, sehat, dan sejahtera,” ajaknya. (mik)

Iklan