Senin, 09 Juli 2012 , 09:24:00
Hari Ini, Itensifikasi Kusta Dimulai
Sasar Sepuluh Desa

BERFOTO BERSAMA: Kepala Dinas Kesehatan Rama Sebayang bersama Asisten II Setda Ismail dan staf ahli Kemenkes-RI dr Ade Irma serta staf Dinas Kesehatan Kalbar, pada acara Advokasi Kusta dan Frambusia di Sukadana, belum lama ini. M SURIMIK UNTUK PONTIANAK POST
SUKADANA – Sekitar 46 tenaga kesehatan dari tujuh puskemas di Kabupaten Kayong Utara akan mulai melakukan intensifikasi kusta dan frambusia atau penyakit kulit karena virus. Kegiatan ini serentak dilaksanakan di sepuluh desa yang diduga memiliki banyak penderita kusta dan frambusia, hari ini (9/7). Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara, Rama Sebayang, menerangkan bahwa tenaga kesehatan yang mengikuti intensifikasi tersebut merupakan tenaga terampil dan terdidik.

Alasannya, menurut Rama, para tenaga tersebut telah mengikuti kegiatan Sosialisasi dan Advokasi Lepra (Kusta) serta Tb Paru, 27 – 28 Juni silam di Balai Praja Sukadana. “Dalam intensifikasi ini diharapkan para tenaga kesehatan dapat bekerja maksimal. Supaya penyakit menular berbahaya dapat lekas ditanggulangi,” pintanya, beberapa hari lalu.

Dia tak menampik ketika seseorang yang merasakan dirinya menderita kusta, akan mengalami trauma kejiwaan atau psikis. Sebagai akibat dari trauma psikis ini pada penderita, antara lain mereka akan dengan segera mencari pertolongan pengobatan. “Kemudian ada juga yang mengulur-ulur waktu karena ketidaktahuan atau malu, bahwa dia atau kelurganya menderita kusta. Ada juga yang menyembunyikan atau mengasingkan diri dari masyarakat sekelilingnya, termasuk keluarganya. Dikarenakan berbagai masalah pada akhirnya penderita bersikap masa bodoh terhadap penyakitnya,” ungkap Rama.

Sebelumnya, Wakil Supervisor (Wasor) di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara, M Trisno Yuwono, mengungkapkan bahwa kegiatan intensifikasinya akan dimulai pada 9 Juli. “Direncanakan akan dilaksanakan di sepuluh desa di lima kecamatan yang ada kasus kusta sampai selesai. Jadi kerja intensifikasi lepra tidak akan selesai kalau belum menyisir semua penderita,” ungkapnya.

Diungkapkan dia bahwa sepuluh desa tersebut berada di Desa Riam Berasap Jaya, Pangkalan Buton, dan Pampang Harapan yang kesemuanya berada Kecamatan Sukadana, kemudian Teluk Batang Selatan, Teluk Batang Utara, Banyu Abang, Padu Banjar (Teluk Batang), Sungai Sepeti (Seponti), Dusun Besar, dan Dusun Kecil (Pulau Maya).

Ia mengupas dalam kurun waktu sepanjang 2009 – 2011 di Kabupaten Kayong Utara ditemukan sebanyak 32 penderita. “Target nasional harus di bawah 1 per-10 ribu penduduk. KKU 1,26 per-10 ribu penduduk. Kita masih berada di bawah target nasional,” jelasnya. Sedangkan untuk pemeriksaan frambusia atau penyakit menyerang kulit, akan menggunakan RDT (rapid diagnostic test/tes diagnosa cepat) pada anak usia di bawah 15 tahun (U-15). “Kalau sudah ditemukan langsung diobati di tempat pada saat kegiatan intensifikasi,” ucapnya.

Kusta Bisa Disembuhkan
Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Ditjen PP dan PL Kemenkes RI, M Subuh, menegaskan bahwa penyakit kusta atau lepra dapat disembuhkan.“Jangan kucilkan penderita kusta atau lepra, karena penyakit ini bisa disembuhkan,” ungkap mantan Direktur RSUD Soedarso Pontianak ini, saat bertandang ke Sukadana beberapa waktu lalu. Diterangkan mantan kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar tersebut, ada tiga isu terbesar anggapan masyarakat mengenai kusta. Tiga anggapan dimaksud yakni menimbulkan rasa malu, menimbulkan masalah dalam memperoleh jodoh, dan menyebabkan sulit dapat pekerjaan.

“Tantangan yang lain, kita harus mencapai target global yang sudah dicanangkan oleh WHO (organisasi kesehatan dunia, Red), menurunkan angka cacat tingkat 2 per-100 ribu penduduk, sebesar 35 persen di tahun 2015 dari data tahun 2010,” tegasnya. Proporsi kasus MB atau kusta basah, sambungnya, merupakan indikator untuk menggambarkan tingginya sumber penularan di masyarakat. “Indonesia termasuk etnis dengan proporsi MB tinggi dibanding negara lain seperti India, Nepal dan Banglades antara 40 – 60.

Situasi ini membuat beban penyakit kusta di Indonesia lebih besar dalam penularan dan penatalaksanaan kasus. Proporsi cacat tingkat dua, indikator untuk menilai kinerja petugas dalam penemuan kasus. Sedangkan proporsi anak merupakan indikator tingkat penularan kusta di masyarakat. Pencapaian kedua indikator tersebut masih di atas target indikator program, yaitu sebesar 5 persen,” paparnya.

Selama sebelas tahun terakhir, lanjut salah satu atlet bridge Kalbar ini, kedua indikator meskipun fluktuatif serta relatif menunjukkan peningkatan. Proporsi cacat tingkat dua pada tahun 2011 sebesar 10,1 persen atau sebanyak 2.025 kasus. Angka ini, menurut dia, lebih tinggi bila dibandingkan pada tahun 2000 yakni sebesar 8,38 persen atau 1.231 kasus. “Proporsi anak tahun 2011 mencapai 12,2 persen atau 2.452 kasus, juga lebih tinggi dibandingkan tahun 2000 sebesar 10,2 persen atau 1.499 kasus,” ucapnya.

Sebelumnya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara yakin bakal dapat menurunkan pederita kusta di enam kecamatan di kabupaten ini. Namun untuk mewujudkan itu, peran aktif berbagai pihak tentunya sangat diharapkan. Berdasarkan data yang mereka miliki, penderita kusta atau lepra yang teregristrasi dari tahun 2009 hingga 2011 adalah sebanyak 32 penderita. Jumlah itu terpapar dalam temuan mereka pada 2009 sebanyak 6 kasus atau penderita, kemudian tahun 2010 (14 penderita), serta 2011 mencapai (12 penderita).

“Angka prevelansi tahun 2009 sebesar 0,61 per-10 penduduk, tahun 2010 sebesar 1,41 persen, dan 2011 sebesar 1,26 per-10 ribu penduduk. Sedangkan target nasional harusnya 1 persen saja tiap per-10 ribu penduduk,” ungkap Rama Sebayang, kepala Dinkes Kabupaten Kayong Utara. Di era desentralisasi saat ini, diingatkan Rama bahwa pembangunan kesehatan merupakan tanggungjawab bersama, antara pemerintah dan masyarakat. Itu, menurut dia, menjadi satu kesatuan secara berkesinambungan.

“Hingga saat ini tak ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Hasil penelitian, kuman kusta yang masih utuh, bentuknya lebih besar kemungkinan menimbulkan penularan dibandingkan yang tidak utuh. Faktor pengobatan sangat penting untuk menghancurkan kusta, sehingga penularan dapat dicegah,” tutur Rama. Ia menganjurkan kepada para penderita untuk berobat secara rutin dan teratur. Pengobatan ke penderita kusta, menurut dia, merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan. Kuman kusta di luar tubuh manusia, dijelaskan dia, dapat dapat hidup selama 24 – 48 jam hingga tujuh hari. Ini, diingatkan dia, tergantung dari suhu dan cuaca di luar tubuh manusia itu.

“Makin panas cuaca, makin cepatlah kuman kusta mati. Jadi, dalam hal ini, pentingnya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya tempat-tempat lembab,” pesannya. Dijelaskan dia, ada beberapa obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta. “Akan tetapi kita tidak dapat menyembuhkan penyakit-penyakit kusta, kecuali masyarakat mengetahui ada obat penyembuh kusta dan datang ke puskesmas untuk diobati,” jelasnya kembali.

Dia memastikan bahwa telah tersedia obat yang dapat menyembuhkan kusta. “Sekurang-kurangnya 80 persen dari semua orang, tidak mungkin terkena kusta. Enam dari tujuh kusta tidaklah menular ke orang lain. Kasus-kasus menular tidak akan menular, setelah diobati enam bulan atau lebih secara teratur. Diagnosa dan pengobatan dini dapat mencegah sebagain besar cacat fisik,” tegasnya. (mik)

Iklan