Category: KUSTA DAN FRAMBUSIA


http://www.equator-news.com/kayong-utara/20130418/keluarga-pengidap-kusta-tinggal-di-gubuk

Iklan

Selasa, 10 Juli 2012
Konsen Pemberantasan Penyakit Menular


Wasor Kusta Kabupaten Kayong Utara ; M.Trisno Yuwono, SKM

Mulai kemarin (9/7), Dinas Kesehatan (Dinkes) KKU memulai intensifikasi kusta, Tb paru, dan frambusia (penyakit kulit bahaya) tahun 2012 di sepuluh desa dari lima kecamatan. Ini bagian dari program pemberantasan penyakit menular.

Untuk Kecamatan Sukadana di Desa Riam Berasap Jaya, Pangkalan Buton, Pampang Harapan. Di Kecamatan Teluk Batang, intensifikasi dilaksanakan di Desa Teluk Batang Selatan, Teluk Batang Utara, Banyu Abang, Padu Banjar. Di Kecamatan Seponti, dilaksanakan di Desa Sungai Sepeti. Kecamatan Pulau Maya di Desa Dusun Besar dan Dusun Kecil.

Program pemberantasan penyakit (P2) kusta di Dinkes KKU dari tahun 2009-2011 sudah banyak melakukan kegiatan. Seperti penemuan penderita kusta antara lain penemuan penderita kusta secara aktif maupun pasif.

Pembinaan dan pengobatan penderita kusta selama 6-12 bulan. Pemeriksaan laboratorim (skinmaer). Pemeriksaan rutin dalam pencegahan reaksi kusta dan obat kusta. Konfirmasi diagnosis kusta oleh Wakil Supervisor (Wasor) Kusta KKU. Monitoring pencegahan cacat prevention of disability (POD), pencegahan cacat, dan pemeriksaan fisik secara rutin. Survei kontak anak sekolah. Penyuluhan terhadap masyarakat dan peran serta masyarakat tentang penyakit kusta dengan leprosy elimination champagne (LEC).

Pemeriksaan rutin secara pasif ke penderita kusta yang telah menyelesaikan pengobatan selama 2-5 tahun. Pelatihan dokter dan pengelola kusta puskesmas. Pelatihan Wasor kusta kabupaten. Pencatatan, pelaporan, dan manajemen logistik.

Pada umumnya penderita kusta merasa rendah diri. Merasa tekanan batin. Takut terhadap penyakitnya dan terjadinya kecacatan. Takut menghadapi keluarga dan masyarakat karena sikap penerimaan mereka kurang wajar.

Segan berobat karena malu, apatis, karena kecacatan tidak dapat mandiri sehingga beban bagi orang lain, seperti jadi pengemis, gelandangan.

Masalah terhadap keluarga seperti menjadi panik. Berubah mencari pertolongan termasuk dukun dan pengobatan tradisional. Keluarga merasa takut diasingkan oleh masyarakat di sekitarnya. Berusaha menyembunyikan penderita agar tidak diketahui masyarakat di sekitarnya. Mengasingkan penderita dari keluarga karena takut ketularan.

Pada umumnya masyarakat mengenal kusta dari tradisi kebudayaan dan agama. Sehingga pendapat tentang kusta merupakan penyakit sangat menular, tidak dapat diobati, penyakit keturunan, kutukan Tuhan, nasjid, dan menyebabkan kecacatan. Masyarakat mendorong agar penderita dan keluarganya diasingkan.

Penanggulangan penyakit kusta telah banyak didengar di mana-mana. Maksudnya mengembalikan penderita kusta menjadi manusia yang berguna, mandiri, produktif, dan percaya diri.

Metode penanggulangan ini terdiri dari metode pemberantasan dan pengobatan, rehabilitasi. Terdiri dari rehabilitasi medis, sosial, karya, dan pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir dari rehabilitasi. Di mana penderita dan masyarakat membaur sehingga tidak ada kelompok sendiri. Ketiga metode itu merupakan suatu sistem saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

Senin, 09 Juli 2012 , 09:24:00
Hari Ini, Itensifikasi Kusta Dimulai
Sasar Sepuluh Desa

BERFOTO BERSAMA: Kepala Dinas Kesehatan Rama Sebayang bersama Asisten II Setda Ismail dan staf ahli Kemenkes-RI dr Ade Irma serta staf Dinas Kesehatan Kalbar, pada acara Advokasi Kusta dan Frambusia di Sukadana, belum lama ini. M SURIMIK UNTUK PONTIANAK POST
SUKADANA – Sekitar 46 tenaga kesehatan dari tujuh puskemas di Kabupaten Kayong Utara akan mulai melakukan intensifikasi kusta dan frambusia atau penyakit kulit karena virus. Kegiatan ini serentak dilaksanakan di sepuluh desa yang diduga memiliki banyak penderita kusta dan frambusia, hari ini (9/7). Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara, Rama Sebayang, menerangkan bahwa tenaga kesehatan yang mengikuti intensifikasi tersebut merupakan tenaga terampil dan terdidik.

Alasannya, menurut Rama, para tenaga tersebut telah mengikuti kegiatan Sosialisasi dan Advokasi Lepra (Kusta) serta Tb Paru, 27 – 28 Juni silam di Balai Praja Sukadana. “Dalam intensifikasi ini diharapkan para tenaga kesehatan dapat bekerja maksimal. Supaya penyakit menular berbahaya dapat lekas ditanggulangi,” pintanya, beberapa hari lalu.

Dia tak menampik ketika seseorang yang merasakan dirinya menderita kusta, akan mengalami trauma kejiwaan atau psikis. Sebagai akibat dari trauma psikis ini pada penderita, antara lain mereka akan dengan segera mencari pertolongan pengobatan. “Kemudian ada juga yang mengulur-ulur waktu karena ketidaktahuan atau malu, bahwa dia atau kelurganya menderita kusta. Ada juga yang menyembunyikan atau mengasingkan diri dari masyarakat sekelilingnya, termasuk keluarganya. Dikarenakan berbagai masalah pada akhirnya penderita bersikap masa bodoh terhadap penyakitnya,” ungkap Rama.

Sebelumnya, Wakil Supervisor (Wasor) di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara, M Trisno Yuwono, mengungkapkan bahwa kegiatan intensifikasinya akan dimulai pada 9 Juli. “Direncanakan akan dilaksanakan di sepuluh desa di lima kecamatan yang ada kasus kusta sampai selesai. Jadi kerja intensifikasi lepra tidak akan selesai kalau belum menyisir semua penderita,” ungkapnya.

Diungkapkan dia bahwa sepuluh desa tersebut berada di Desa Riam Berasap Jaya, Pangkalan Buton, dan Pampang Harapan yang kesemuanya berada Kecamatan Sukadana, kemudian Teluk Batang Selatan, Teluk Batang Utara, Banyu Abang, Padu Banjar (Teluk Batang), Sungai Sepeti (Seponti), Dusun Besar, dan Dusun Kecil (Pulau Maya).

Ia mengupas dalam kurun waktu sepanjang 2009 – 2011 di Kabupaten Kayong Utara ditemukan sebanyak 32 penderita. “Target nasional harus di bawah 1 per-10 ribu penduduk. KKU 1,26 per-10 ribu penduduk. Kita masih berada di bawah target nasional,” jelasnya. Sedangkan untuk pemeriksaan frambusia atau penyakit menyerang kulit, akan menggunakan RDT (rapid diagnostic test/tes diagnosa cepat) pada anak usia di bawah 15 tahun (U-15). “Kalau sudah ditemukan langsung diobati di tempat pada saat kegiatan intensifikasi,” ucapnya.

Kusta Bisa Disembuhkan
Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Ditjen PP dan PL Kemenkes RI, M Subuh, menegaskan bahwa penyakit kusta atau lepra dapat disembuhkan.“Jangan kucilkan penderita kusta atau lepra, karena penyakit ini bisa disembuhkan,” ungkap mantan Direktur RSUD Soedarso Pontianak ini, saat bertandang ke Sukadana beberapa waktu lalu. Diterangkan mantan kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar tersebut, ada tiga isu terbesar anggapan masyarakat mengenai kusta. Tiga anggapan dimaksud yakni menimbulkan rasa malu, menimbulkan masalah dalam memperoleh jodoh, dan menyebabkan sulit dapat pekerjaan.

“Tantangan yang lain, kita harus mencapai target global yang sudah dicanangkan oleh WHO (organisasi kesehatan dunia, Red), menurunkan angka cacat tingkat 2 per-100 ribu penduduk, sebesar 35 persen di tahun 2015 dari data tahun 2010,” tegasnya. Proporsi kasus MB atau kusta basah, sambungnya, merupakan indikator untuk menggambarkan tingginya sumber penularan di masyarakat. “Indonesia termasuk etnis dengan proporsi MB tinggi dibanding negara lain seperti India, Nepal dan Banglades antara 40 – 60.

Situasi ini membuat beban penyakit kusta di Indonesia lebih besar dalam penularan dan penatalaksanaan kasus. Proporsi cacat tingkat dua, indikator untuk menilai kinerja petugas dalam penemuan kasus. Sedangkan proporsi anak merupakan indikator tingkat penularan kusta di masyarakat. Pencapaian kedua indikator tersebut masih di atas target indikator program, yaitu sebesar 5 persen,” paparnya.

Selama sebelas tahun terakhir, lanjut salah satu atlet bridge Kalbar ini, kedua indikator meskipun fluktuatif serta relatif menunjukkan peningkatan. Proporsi cacat tingkat dua pada tahun 2011 sebesar 10,1 persen atau sebanyak 2.025 kasus. Angka ini, menurut dia, lebih tinggi bila dibandingkan pada tahun 2000 yakni sebesar 8,38 persen atau 1.231 kasus. “Proporsi anak tahun 2011 mencapai 12,2 persen atau 2.452 kasus, juga lebih tinggi dibandingkan tahun 2000 sebesar 10,2 persen atau 1.499 kasus,” ucapnya.

Sebelumnya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara yakin bakal dapat menurunkan pederita kusta di enam kecamatan di kabupaten ini. Namun untuk mewujudkan itu, peran aktif berbagai pihak tentunya sangat diharapkan. Berdasarkan data yang mereka miliki, penderita kusta atau lepra yang teregristrasi dari tahun 2009 hingga 2011 adalah sebanyak 32 penderita. Jumlah itu terpapar dalam temuan mereka pada 2009 sebanyak 6 kasus atau penderita, kemudian tahun 2010 (14 penderita), serta 2011 mencapai (12 penderita).

“Angka prevelansi tahun 2009 sebesar 0,61 per-10 penduduk, tahun 2010 sebesar 1,41 persen, dan 2011 sebesar 1,26 per-10 ribu penduduk. Sedangkan target nasional harusnya 1 persen saja tiap per-10 ribu penduduk,” ungkap Rama Sebayang, kepala Dinkes Kabupaten Kayong Utara. Di era desentralisasi saat ini, diingatkan Rama bahwa pembangunan kesehatan merupakan tanggungjawab bersama, antara pemerintah dan masyarakat. Itu, menurut dia, menjadi satu kesatuan secara berkesinambungan.

“Hingga saat ini tak ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Hasil penelitian, kuman kusta yang masih utuh, bentuknya lebih besar kemungkinan menimbulkan penularan dibandingkan yang tidak utuh. Faktor pengobatan sangat penting untuk menghancurkan kusta, sehingga penularan dapat dicegah,” tutur Rama. Ia menganjurkan kepada para penderita untuk berobat secara rutin dan teratur. Pengobatan ke penderita kusta, menurut dia, merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan. Kuman kusta di luar tubuh manusia, dijelaskan dia, dapat dapat hidup selama 24 – 48 jam hingga tujuh hari. Ini, diingatkan dia, tergantung dari suhu dan cuaca di luar tubuh manusia itu.

“Makin panas cuaca, makin cepatlah kuman kusta mati. Jadi, dalam hal ini, pentingnya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya tempat-tempat lembab,” pesannya. Dijelaskan dia, ada beberapa obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta. “Akan tetapi kita tidak dapat menyembuhkan penyakit-penyakit kusta, kecuali masyarakat mengetahui ada obat penyembuh kusta dan datang ke puskesmas untuk diobati,” jelasnya kembali.

Dia memastikan bahwa telah tersedia obat yang dapat menyembuhkan kusta. “Sekurang-kurangnya 80 persen dari semua orang, tidak mungkin terkena kusta. Enam dari tujuh kusta tidaklah menular ke orang lain. Kasus-kasus menular tidak akan menular, setelah diobati enam bulan atau lebih secara teratur. Diagnosa dan pengobatan dini dapat mencegah sebagain besar cacat fisik,” tegasnya. (mik)

Jum’at, 20 Juli 2012 , 10:24:00
Dua Kasus Kusta Ditemukan di RBJ

TERSERANG KUSTA: Seorang pasien kusta ditemukan di Desa Riam Berasap Jaya, Kecamatan Sukadana. foto Mik/Pontianak Post
SUKADANA–Intensifikasi di desa Riam Berasap Jaya (RBJ) kecamatan Sukadana sejak Senin (16/7) sampai kemarin, berhasil ditemukan dua kasus kusta. Sedangkan intensifikasi frambusia (borok super besar) masih negatif. Petugas dari Puskesmas Siduk memeriksa lebih dari seratus warga desa RBJ. Kulit warga diperiksa kulit dan darahnya untuk menemukan dugaan kasus kusta.

Temuan kasus kusta menghinggapi orang yang sudah tua, bukan kanak-kanak. Sebelumnya berhasil ditemukan 17 penderita kusta, termasuk di dalamnya dua menyerang anak kecil. Ditambah dengan temuan di Desa RBJ, totalnya mencapai 19 penderita kusta. Sedangkan kasus frambusia di KKU, masih ditemukan satu kasus. “Intensifikasi kusta dan frambusia di KKU di tahun 2012 ini masih berjalan. Jadi ada kemungkinan penambahan jumlah penderita kusta dan frambusia,” ungkap M Trisno Yuwono MKM, Wakil Supervisor (Wasor) Dinas Kesehatan (Dinkes) KKU, kemarin (18/7). (mik)

Sabtu, 30 Juni 2012 , 12:31:00
Intensifikasi Kusta Sasar Sepuluh Desa

PEMETAAN KUSTA: (Kiri ke kanan) Kadinskes Kayong Utara Rama Sebayang, Wabup M Said Tihi, dan Dirjen P2ML Depkes-RI Muhammad Subuh pada acara Penutupan Sosialisasi dan Advokasi Lepra atau Kusta dan Tb paru, di Balai Praja Sukadana, Kamis (28/6) petang (kiri).. M SURIMIK UNTUK PONTIANAK POST
SUKADANA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara akan menggelar intensifikasi penyakit menular berbahaya, yakni kusta atau lepra dan Tb paru. Secara serentak, kegiatan tersebut dimulai di sepuluh desa dari lima kecamatan, 9 Juli mendatang. “Untuk kegiatan intensifikasinya akan dimulai 9 Juli 2012 di sepuluh desa di lima kecamatan yang ada kasus kusta sampai selesai. Jadi kerja intensifikasi lepra tidak akan selesai kalau belum menyisir semua penderita,” ungkap M Trisno Yuwono, wakil Supervisor (Wasor) di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara, Jumat (29/6), di Sukadana.

Diterangkannya, rincian sepuluh desa itu yakni Desa Riam Berasap Jaya, Pangkalan Buton, dan Pampang Harapan yang kesemuanya berada di Kecamatan Sukadana, kemudian Teluk Batang Selatan, Teluk Batang Utara, Banyu Abang, Padu Banjar (Kecamatan Teluk Batang), Sungai Sepeti (Seponti), Dusun Besar, dan Dusun Kecil (Pulau Maya).

“Kecamatan Kepulauan Karimata belum kita jajahi untuk intensifikasi karena pemetaan datanya masih dipusatkan di Kecamatan Pulau Maya. Namun bukan berarti kecamatan itu aman, karena kecamatan Kepulauan Karimata dekat dengan Kecamatan Pulau Maya yang memiliki kasus tertinggi penderita kusta atau lepra. Bahkan kecamatan Pulau Maya dianggap endemis KKU penyakit menular kusta ini,” tegasnya.

Untuk diketahui, dalam kurun waktu sepanjng 2009 – 2011, di kabupaten ini ternyata telah ditemukan sebanyak 32 penderita penderita. “Target nasional harus di bawah 1 per-10 ribu penduduk. KKU 1,26 per-10 ribu penduduk, masih di bawah target nasional. Jadi kita bersama pihak terkait masih perlu kerja keras,” akunya.

Sedangkan untuk pemeriksaan frambusia atau penyakit infeksi kulit karena virus, akan menggunakan RDT (rapid diagnostic test/tes diagnosa cepat) pada anak usia di bawah 15 tahun (U-15). “Kalau sudah ditemukan, langsung diobati di tempat pada saat kegiatan intensifikasi,” papar Trisno.

Para tenaga yang akan diturunkan dalam intensifikasi ini, sebelumnya telah mengikuti pelatihan selama dua hari, 27 – 28 Juni lalu, di Balai Praja Sukadana. Acara itu sendiri merupakan program Kementerian Kesehatan (Kemenkes), didukung dana Kerajaan Belanda melalui Nederland Leprosy Relief (NLR). Kegiatan itu sendiri menghadirkan pembicara dari NLR dr Qory Kutika MKes, dr Ade Irma MKes dari Subdit Kusta dan Frambusia di Kemenkes-RI, dan dr H Muhammad Subuh MPPM dari Dirjen P2ML (Pemberantasan Penyakit Menular Langsung) di Kemenkes-RI.

Pelatihan Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Tuberkulosis (TB) Paru dan Intensifikasi Kusta tersebut, diikuti 46 orang. Peserta yang hadir merupakan tenaga dokter hingga perawat di wilayah kerja Kayong Utara.

Seperti dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Tanjung Satai, Telaga Arum, Teluk Batang, Matan Jaya, hingga Siduk. Penutupan acara itu dihadiri Wabub Kayong Utara Muhammad Said Tihi, Kamis (28/6) lalu. “Kalau Rabu (27/6) kegiatannya sosialisasi dan advokasi. Sedangkan Kamis (28/6) kegiatannya on the job training,” ujarnya.

32 Kasus Kusta
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara, penderita kusta atau lepra yang teregristrasi sepanjang 2009 – 2011 adalah sebanyak 32 penderita. Pada tahun 2009 ditemukan penderita baru sebanyak enam orang, sementara tahun 2010, 14 penderita, dan 2011 mencapai 12 penderita.“Saya bergembira, sesuai laporan yang saya dengar dari panitia penyelenggara, dari 33 provinsi di Republik Indonesia, kegiatan ini diselenggarakan di tiga provinsi saja. Salah satunya Kalbar yang memilih KKU untuk melaksanakan kegiatan ini,” ungkap Bupati Kayong Utara Hildi Hamid saat membuka Pelatihan Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Tuberkulosis (TB) Paru dan Intensifikasi Kusta, di Balai Praja Sukadana, Rabu (27/6) lalu.

Acara ini diselenggarakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia bekerjasama dengan Kerajaan Belanda melalui Nederland Leprosy Relief (NLR), sebuah lembaga yang konsen penanganan lepra. Pelatihan tersebut menghadirkan pembicara dari Nederland Leprosy Relief (NLR) dr Qory Kutika, dr Ade Irma dari Subdit Kusta dan Frambusia (penyakit karena infeksi kulit) di Kemenkes-RI, dan dr H Muhammad Subuh MPPM dari Dirjen P2ML (Pemberantasan Penyakit Menular Langsung) di Kemenkes-RI.

“Kegiatan ini sangat penting karena ikhwal sosialisasi dan intensifikasi kusta, frambusia (penyakit karena kulit terinfeksi virus, Red), dan tubercolosis (Tb) paru. Kemudian mobilisasi pemerintah, petugas kesehatan, dan masyarakat. Guna mendukung penemuan secara aktif di KKU,” tegasnya. Di era desentralisasi saat ini, diingatkan Bupati bahwa pembangunan kesehatan merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Itu, menurut dia, menjadi satu kesatuan secara berkesinambungan. “Pada dasarnya kita ada dalam satu ruang kebersamaan yang harus bersinergi dan membangun kekuatan bersama. Untuk melaksanakan upaya pencapaian target MDGs sesuai proporsi, potensi, dan kemampuan daerah,” timpalnya.

Pemkab Kayong Utara diakui Bupati, tidak akan mungkin dapat melaksanakan kegiatan seperti ini tanpa melakukan kerjasama yang erat serta bahu-membahu, antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten. Di lain pihak, menurut dia, terdapat juga perbedaan permasalahan antarwilayah, meliputi geografis, sosial, dan budaya masyarakat.

“Sesuai dengan visi KKU, terwujudnya ‘masyarakat KKU yang beriman, sehat, dan sejahtera’. Didukung misi KKU di bidang kesehatan, meningkatkan pelayanan kesehatan untuk mewujudkan masyarakat yang sehat jasmani dan rohani,” yakinnya. Bupati menaruh harapan besar kepada para peserta kegiatan tersebut agar dalam sosialisasi dan intensifikasi kusta, frambusia, dan Tb paru ini, memberikan dukungan serta komitmen bersama, baik dari masyarakat, pemerintah daerah, dan stakeholders terkait, dalam penanggulangan penyakit menular langsung.“Marilah dengan semangat kemitraan kita selenggarakan pembangunan kesehatan. Demi terwujudnya masyarakat KKU yang beriman, sehat, dan sejahtera,” ajaknya. (mik)

Profil P2 Kusta Kabupaten Kayong Utara Tahun 2009 – 2011

Jum’at, 11 November 2011 , 13:20:00

PERIKSA: M Trisno Yuwono SKM melakukan pemeriksaan terhadap penderita kusta di RBJ dan warga di sekitarnya –foto: Mik/Pontianak Post SUKADANA–

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kayong Utara secara intensif melakukan pemeriksaan terhadap warga yang menderita penyakit kusta di Desa Riam Berasap Jaya (RBJ), Kecamatan Sukadana. Tak hanya mereka yang dinyatakan positif mengidap penyakit kulit dan menular itu, keluarga se rumah dan tetangga di sekitar korban kusta juga diperiksa untuk dipastikan apakah tertular atau tidak. Pada pemeriksaan yang dilakukan belum lama ini, Dinkes kembali menemukan dua korban baru yang tertular kusta di RBJ. Dua orang dimaksud merupakan anak dan cucu dari seorang ibu yang tinggal se rumah dan sudah puluhan tahun menjalani hidup bersama penyakit kusta. Sedangkan seorang ibu yang sekarang kondisi tubuhnya pada bagian tangan terlihat cacat sudah dinyatakan sembuh dari sakitnya. “Penyakit kusta ini sangat membahayakan jika tidak segera diobati karena bisa menimbulkan cacat pada tubuh,” jelas M Trisno Yuwono, SKM dari Dinkes Kayong Utara didampingi Perawat Puskesmas Siduk, Ariva Rizkya Shabry, AMd.Kep ditemui wartawan Koran ini saat melakukan pemeriksaan penderita kusta di RBJ, belum lama ini. Trisno menerangkan, kusta atau lepra disebabkan oleh infeksi yang diakibatkan bakteri mycobacterium leprae. Kusta termasuk penyakit menular yang penularannya sulit. Kondisi tubuh yang lemah serta kontak terus-menerus dalam waktu lama memudahkan penularan kusta. Namun, dikatakannya, kusta dapat diobati. “Gejala awal kusta, antara lain, kelainan kulit berupa bercak putih, seperti panu atau bercak kemerahan yang mati rasa, tidak ditumbuhi bulu, tidak mengeluarkan keringat, tidak gatal, dan tidak sakit,” jelas Trisno. Gejala lanjut, ditambahkan Trisno, ditandai kecacatan, seperti tidak bisa menutup mata, bahkan sampai buta, mati rasa pada telapak tangan, serta jari-jari kiting (kaku melingkar), memendek, bahkan putus. “Cacat kusta terjadi karena kuman menyerang saraf. Kondisi itu ditemui pada pengidap yang terlambat ditemukan dan diobati,” tandasnya. (mik)

Penyakit kusta adalah salah satu penyakit yang masih menjadi momok bagi masyarakat. Meski penyakit kusta tidak menyebabkan kematian, namun penderitanya bisa mati karena sanksi sosial berupa tindakan diskrimanasi pengucilan dari masyarakat. Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia sebagai penyumbang penderita kusta terbanyak. Meski angka penderita kusta dari tahun ke tahun terus menurun, posisi angkanya 1 berbanding 10 ribu di tiap provinsi. Tercatat angka penderita kusta di Indonesia mencapai 17 ribu orang pada tahun 2009.

Data dari Departemen Kesehatan (Depkes)/Kemenkes, secara nasional Indonesia sudah mencapai angka eliminasi kusta pada tahun 2000 lalu. Terdapat sekitar 20.000 kasus baru ditemukan setiap tahun atau sekitar 2 sampai 3 orang setiap jam atau 40 – 80 orang setiap harinya. Masih terdapat 14 provinsi dan 150 kabupaten yang belum mencapai eliminasi dan yang harus lebih intensif dalam pelaksanaan program kusta. Di Kabupaten Kayong Utara pada tahun 2010 di temukan sebanyak 14 kasus dan pada tahun 2011 sampai dengan bulan september ditemukan 10 kasus kusta, Untuk menekan jumlah tersebut, Dinas Kesehatan Kab. Kayong Utara program P2 Kusta akan menggalang program deteksi secara dini terhadap penyakit kusta dan memutus mata rantai penularan serta mencegah terjadinya kecacatan dengan kegiatan – kegiatan seperti Survei Kontak Serumah / Lingkungan, LEC, Survei Kontak Anak Sekolah dan juga akan mengadakan pendataan terhadap penderita kusta di desa – desa terutama orang-orang yang putus berobat dan memberikan pengobatan secara gratis terhadap para penderita kusta melalui puskesmas di wilayah Kabupaten Kayong Utara.

Epidemiologi Kusta

Penyakit kusta adalah jenis penyakit menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium Leprae yang menyerang saraf tepi seseorang sehingga mati rasa. Kuman mycobacterium Leprae yang berada didalam tubuh membutuhkan waktu lama untuk berkembang, bisa mencapai 5 tahun. Penyakit kusta adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernafasan atas, sementara lesi pada kulit adalah tanda yang bisa dilihat dari luar. Ciri-ciri orang yang terinfeksi penyakit kusta adalah adanya bercak putih kemerahan yang mati rasa. Bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak kemudian timbul bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit. Muka akan terlihat berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa) dan ada pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus seryta peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat.

Mycobacterium leprae sebagai kuman penyebab penyakit kusta adalah bakteri yang tahan asam, sejenis bakteri aerobik, gram positif, berbentuk batang dan dikelilingi oleh membrane sel lilin yang merupakan cirri dari mycobacterium. Bakteri sejenis ini dapat dikultur pada laboratorium.

Meski sejenis penyakit menular, namun menurut penelitian tidak semua  manusia di dunia yang bisa terinfeksi penyakit kusta. Setelah melalui penelitian dan pengamatan pada kelompok penyakit kusta di keluarga tertentu, tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman mycobacterium leprae menderita kusta. Karena itu ada dugaan, faktor genetika dan faktor gizi berperan dalam penyebaran penyakit kusta. Seseorang yang memiliki riwayat keturunan dan kekurangan gizi pada pola asupan makanan akan berpengaruh terhadap infeksi penularan penyakit kusta.

Berdasarkan manifestasi klinis, penyakit kusta dibedakan atas kusta tuberkuloid, kusta lepromatosa(penyakit Hansen multibasiler) dan kusta multibasiler (borderline leprosy). Kusta Tuberkuloid ditandai dengan satu atau lebih hipopigmentasi makula kulit dan bagian yang tidak berasa (anestetik). Sedangkan Kusta Lepormatosa dihubungkan dengan lesi, nodul, plak kulit simetris, dermis kulit yang menipis, dan perkembangan pada mukosa hidung yang menyebabkan penyumbatan hidung (kongesti nasal) dan epistaksis (hidung berdarah) namun pendeteksian terhadap kerusakan saraf sering kali terlambat. Sememntara Kusta Multibasiler, dengan tingkat keparahan yang sedang, adalah tipe yang sering ditemukan. Terdapat lesi kulit yang menyerupai kusta tuberkuloid namun jumlahnya lebih banyak dan tak beraturan; bagian yang besar dapat mengganggu seluruh tungkai, dan gangguan saraf tepi dengan kelemahan dan kehilangan rasa rangsang. Tipe ini tidak stabil dan dapat menjadi seperti kusta lepromatosa atau kusta tuberkuloid (Wikipedia).

Penyakit kusta sudah dikenal pada peradaban kuno di China, Mesir dan India sejak 300 sebelum masehi. Penyakit ini diduga berasal dari Afrika atau Asia Tengah yang kemudian menyebar ke seluruh dunia lewat perpindahan penduduk. Penyakit kusta masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke-4 atau Abad ke-5 yang diduga dibawa oleh orang-orang India yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan agamanya dan berdagang.

Namun baru pada tahun 1873 bakteri mycobacterium leprae yang menyebabkan penyakit kusta ditemukan pertama kali oleh seorang ilmuwan asal negara Norwegia bernama Gerhard Henrik Armauer Hansen. Sementara bakteri mycobacterium lepromatosis ditemukan oleh Universitas Texas pada tahun 2008 ketika sejenis kusta yang disebut diffuse lepromatous leprosy yang menyebar di Karibia dan Meksiko. Penyakit kusta kadang juga disebut Penyakit Hansen untuk menghargai penemu bakterinya sekaligus untuk menghilangkan stigma negatif dari masyarakat pada penderita kusta yang rawan pengucilan sosial. Istilah kusta berasal dari bahasa sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah penderita penyakit kusta mencapai dua sampai tiga juta jiwa yang menderita cacat permanen disebabkan oleh penyakit kusta. Negara dengan jumlah penderita terbesar di dunia adalah India, disusul Brasil dan Myanmar berdasarkan distribusi penyakit kusta pada tahun 2003. Pada tahun 2000, WHO membuat pemeringkatan Negara endemik penderita kusta di seluruh dunia, 70 persen kasus kusta terdapat pada negara India, Myanmar dan Nepal. Sementara pada tahun 2002, WHO menetapkan 90 persen kasus kusta terdapat di negara Brazil, Madagaskar, Tanzania dan Nepal.

Hingga tahun 1985, masalah kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat pada 122 negara. Maka pada tahun 1991, sebuah Pertemuan Kesehatan Dunia (WHA) ke-44 di Jenewa menghasilkan resolusi penghapusan penyakit kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2000. WHA memberikan mandat kepada WHO untuk mengembangkan strategi penghapusan kusta. Pada tahun 1995, WHO memberikan paket obat terapi kusta secara gratis pada negara endemik, melalui Kementrian Kesehatan masing-masing negara. Berdasarkan Weekly Epidemiological Record yang dilaporkan oleh WHO pada 115 negara dan teritori pada 2006 terdapat 219.826 kasus kusta. Tahun sebelumnya adalah 296.499 kasus. Penemuan secara global terhadap kasus baru menunjukkan penurunan.

Pencegahan dan Pengobatan

Pengobatan penyakit kusta dapat dilakukan dengan Multidrug Therapy (MDT) yang dapat menyembuhkan. Obat kusta bisa diperoleh dengan gratis di puskesmas terdekat. Keterlambatan seseorang penderita penyakit kusta dalam berobat dapat menyebabkan kecacatan. Kecacatan juga bisa terjadi apabila pengobatan tidak sempurna sehingga pengobatan tidak tuntas. Namun apabila segera meminum obat maka kecacatan dapat dihindari akibat saraf tepi yang mati rasa.

Terapi multiobat dan kombinasi tiga obat (rifampisin, klofazimin, dan dapson) direkomendasi oleh WHO pertama kali pada tahun 1981. WHO merekomendasikan dua tipe terapi multiobat standar. Pertama adalah pengobatan selama 12 bulan untuk kusta lepromatosa ( MB ) dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson. Kedua adalah pengobatan 6 bulan untuk kusta tuberkuloid ( PB ) dengan rifampisin dan dapson. 

Guna promosi kesehatan dalam pencegahan penyebaran penyakit kusta setiap tahun dilakukan kegiatan pada hari kusta sedunia, 25 Januari. Tahun 2011 dicanangkan sebagai tahun pencegahan kecacatan berupa mencegah kecacatan kusta dengan berobat secara dini, memberdayakan orang yang pernah mengalami kusta untuk dapat hidup mandiri dan mendapatkan keyakinan dan stop diskriminasi dan stigmasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta dan keluarganya. Kegiatan promosi kesehatan untuk menggalang komitmen para pengambil kebijakan, petugas di tim pelayanan kesehatan dan semua elemen masyarakat dalam rangka pengendalian penyakit kusta dan pencegahan kecacatan.

Bertepatan dengan peringatan Hari Kusta Sedunia ke 58 tahun 2011, Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih mencanangkan Tahun Pencegahan Cacat 2011. Tujuannya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dan seluruh stakeholder untuk membantu mencegah kecacatan akibat kusta. Kegiatan tahun pencegahan cacat mengarah pada petugas kesehatan untuk dapat mendeteksi dan menangani kusta dengan benar, agar tidak terjadi kecacatan lebih lanjut. Di Indonesia, tercatat 19 provinsi telah mencapai eliminasi kusta dengan angka penemuan kasus kurang dari 10 per 100.000 populasi, atau kurang dari 1.000 kasus per tahun. Sampai akhir 2009 tercatat 17.260 kasus baru kusta di Indonesia dan telah diobati. Saat ini tinggal 150 kabupaten/kota yang belum mencapai eliminasi. Sebanyak 1.500-1.700 (10%) kasus kecacatan tingkat II ditemukan setiap tahunnya. Sekitar 14.000 (80%) adalah kasus kusta MB, sedangkan sekitar 1500-1800 kasus merupakan kasus pada anak.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan regimen Multy Drug Therapy (MDT) sebagai pengobatan kusta. Sejumlah negara telah melaksanakan pengobatan MDT dan mencapai hasil memuaskan. Lebih dari 10 juta penderita telah disembuhkan. Dari jumlah itu lebih 1 juta penderita yang diselamatkan dari kecacatan. Berdasarkan keberhasilan tersebut, pada World Health Assembly (Sidang Kesehatan Sedunia-WHA) Mei 1991 dikeluarkan Resolusi No. 44.9 tentang Eliminasi Kusta Tahun 2000.

Eliminasi yaitu menurunkan angka kesakitan lebih kecil dari 1 per 10.000 penduduk dengan strategi penemuan penderita secara dini dan mengobati dengan tepat. Tujuan penanggulangan kusta di Indonesia adalah mencapai PR (Prevalens Rate) kurang dari 1 per 10.000 penduduk di semua kabupaten, dan kesinambungan program kusta di seluruh wilayah. Ditempuh melalui kebijakan deteksi dini kasus kusta dan pengobatan dengan MDT, mencegah kecacatan, mengubah image (pandangan) masyarakat luas dan menjamin ketersediaan dan kualitas obat kusta (MDT). Obat MDT diberikan secara gratis di Puskesmas. Dosis pertama harus diminum di depan petugas puskesmas dan untuk selanjutnya obat diminum sesuai petunjuk dalam blister.

Pada tahun 2006, WHO mengeluarkan panduan operasional “Global Strategy for Further Reducing the Leprosy Burden and Sustaining Leprosy Control Activities (2006 – 2010)”. Tujuannya untuk menurunkan lebih lanjut beban penyakit kusta dan mempertahankan kesinambungan kegiatan pemberantasan kusta sebagai acuan bagi negara-negara yang masih mempunyai masalah dengan penyakit ini. Tahun 2009, WHO mengeluarkan panduan operasional “Global Strategy for Further Reducing the Disease Burden Due to Leprosy (2011 – 2015)” . Dalam panduan tersebut ditetapkan target angka cacat yang kelihatan (Cacat 2) per 100.000 penduduk turun 35 % di tahun 2015 dari data tahun 2010.

Penyakit kusta adalah penyakit menular, menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh lainnya. Bila tidak terdiagnosis dan diobati secara dini, maka akan menimbulkan kecacatan menetap. Kusta bukan disebabkan oleh kutukan, guna-guna, makanan, atau penyakit keturunan seperti yang masih banyak timbul anggapan di masyarakat.

Penularan dapat terjadi karena kontak lama antara penderita kusta yang tidak diobati kepada orang yang sehat melalui pernapasan. Tidak semua orang serta merta tertular kusta begitu kontak dengan penderita. Secara statistik hanya 5% saja yang akan tertular. Dapat dikatakan penyakit kusta adalah penyakit menular yang paling rendah penularannya. Kemungkinan anggota keluarga dapat tertular, jika penderita tidak minum obat secara teratur.

Pemerintah telah melakukan sejumlah upaya untuk percepatan eliminasi kusta diantaranya dengan penemuan penderita secara aktif, membantu provinsi dan kabupaten dalam memberantas penyakit kusta dengan menempatkan konsultan lokal/Nasional yang berdomisili di Bandung, Surabaya, Palembang, Aceh, Samarinda, Makasar, Manado dan Jayapura dan konsultan Internasional yang berdomisili di Pusat serta melakukan kegiatan rehabilitasi.

Penetapan Hari Kusta (Leprosy Day) diorganisir oleh seorang wartawan berkebangsaan Perancis bernama Raoul Fallereau. Selama 30 tahun Raoul Fallereau (RF) mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan nasib penderita kusta. RF berjuang untuk menghilangkan stigma sosial di masyarakat. Pada tahun 1955, terdapat 150 radio dari 60 negara yang menyiarkan kampanye pemberantasan penyakit kusta. Peristiwa ini terjadi pada hari Minggu terakhir bulan Desember 1955. Karena itu di Eropa, Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) ditetapkan hari Minggu terakhir Desember. Sedangkan di negara-negara Asia, untuk mengenang jasa-jasa Mahatma Gandhi yang sangat menaruh perhatian dan besar jasanya kepada penderita kusta, Hari Kusta Sedunia ditetapkan pada Minggu terakhir Januari saat terbunuhnya Mahatma Gandhi.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon : 021-52907416-9, faks : 52921669, Call Center : 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail : puskom.publik@yahoo.co.id, info@depkes.go.id, dan kontak@depkes.go.id.

I. DASAR PENYELENGGARAAN

Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional.

Penyakit kusta pada umumnya terdapat di negara – negara yang sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan Negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan social ekonomi pada masyaraakat.

Berdasarkan data kasus kusta di Kabupaten Kayong Utara pada tahun 2009 terdapaat 6 kasus kusta ( CDR : 6 per 100.000, RFT : 83,3 % dan Prevalensi sebesar 0,6 per 10.000 ) dan sampai dengan bulan November tahun 2010, penemuan kasus kusta sebanyak 14 penderita dari 3 Puskesmas, dengan CDR sebesar 14,12 per 100.000 dan Prevalensi sebesar 1,41 per 10.000, dari data tersebut menunjukan Kabupaten Kayong Utara pada tahun 2010 ini, termasuk daerah endemis tinggi ( PR > 1 / 10.000 )

Tingginya kasus kusta di Kabupaten Kayong Utara tahun 2010 perlu adanya akselerasi kegiatan dengan perencanaan pelayanan kesehatan terpadu, penyuluhan yang intensif dan penemuan penderita secara aktif oleh petugas Puskesmas maupun Kabupaten. Untuk itu, peningkatan pengetahuan Pengelola Kusta di Puskesmas dalam mendiagnosis dan memberi terapi/pengobatan perlu ditingkatkan sehingga cakupan penemuan penderita dapat lebih di tingkatkan dan kebijakan program dalam upaya memutus mata rantai penularan penyakit dapat tercapai.

II. T U J U A N

a.    Tujuan Umum

        Meningkatkan pengetahuan petugas tentang tatalaksana kasus kusta.

b.    Tujuan Khusus

         –      Meningkatkan pengetahuan petugas tentang kebijakan program P2 Kusta.

         –      Meningkatkan pengetahuan petugas tentang epidemiologi penyakit kusta.

        –       Meningkatkan pengetahuan pengobatan yg adekuat sehingga tercapai angka kesembuhan (RFT Rate) > 90 %

        –       Mengintensifkan penemuan penderita dan diagnosis pada penderita kusta.

        –      Meningkatkan pengetahuan tentang perawatan & pelayanan rehabilitasi yg tepat pd penyandang cacat kusta.

        –      Memperkuat sistim pencatatan dan pelaporan

III. PESERTA

Peserta adalah Dokter & Pengelola Program P2 Kusta Puskesmas se- Kabupaten Kayong Utara sebanyak 14 orang.

IV. MATERI PELATIHAN

Materi yang akan diberikan pada pelatihan ini adalah sebagai berikut :

a.    Kebijakan Program P2 Kusta dan Pengendalian Penyakit Kusta

b.    Epidemiologi Penyakit Kusta

c.    Penemuan Penderita Kusta ( Case Finding )

d.    Diagnosis dan Klasifikasi Penyakit Kusta

e.    Pengobatan, Pengendalian dan Pemantauan Pengobatan Pada Penderita Kusta.

f.     Pencegahan Cacat dan Perawatan Diri

g.    Penanganan Penderita Reaksi

h.    Promosi Pengendalian Penyakit Kusta

i.      Monitoring dan Evaluasi Program P2 Kusta.

j.      Praktek Lapangan

V.      M E T O D E

1.    Ceramah

2.    Diskusi.

3.    Praktek.

4.    Praktek Kerja Lapangan

5.    Tanya jawab

VI.     NARASUMBER

Nara sumber dalam pelatihan ini adalah Subdin P2 Kusta dan Frambusia Dirjen P2ML Kementrian Kesehatan RI.

VII.    PENYELENGGARA

Penyelenggara Pelatihan Tatalaksana Kusta bagi Dokter dan Pengelola Program P2 Kasus Puskesmas Se- Kabupaten Kayong Utara tahun 2010 adalah Dinas Kesehatan Kabupaten Kayong Utara, Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit pada Seksi Pemberantasan Penyakit Menular.

VIII.   TEMPAT DAN WAKTU

Tempat pelaksanaan pelatihan di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Kayong Utara jalan Bhayangkara Sukadana Kab. Kayong Utara Prop. Kalimantan Barat.

Waktu pelaksanaan Pelatihan dilaksanakan selama 6 ( Enam ) hari dimulai pada tanggal 19 – 25 November 2010.

IX.     PEMBIAYAAN

Biaya penyelenggaraan Pertemuan ini dianggarkan pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah ( DPA SKPD ) Dinas Kesehatan Kabupaten Kayong Utara Tahun Anggaran 2010.

threez_boss@yahoo.com

%d blogger menyukai ini: