Category: MALARIA


Tidak ada wilayah di Indonesia yang benar-benar aman dari serangan malaria, begitu juga yang dialami di beberapa negara lainnya.

Mengapa malaria sulit dibasmi?

Di dunia tercatat lebih dari 250 juta orang setiap tahun terinfeksi malaria, di Indonesia sendiri, 80 persen kabupaten masih termasuk endemis malaria dan 45 persen jumlah penduduk berisiko terkena malaria.

“Malaria masih menjadi masalah kesehatan terutama di wilayah luar Jawa Bali khususnya wilayah Indonesia bagian Timur. Indonesia bisa dibagi menjadi 3 wilayah yaitu endemis tinggi di Indonesia Timur, menengah di daerah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, serta rendah di wilayah Jawa Bali.

Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium. Di Indonesia ditemukan ke 4 spesies parasit.

Bahaya yang ditimbulkan oleh parasit tersebut adalah terjadinya anemia. Pada penderita malaria, sel-sel darah merah dirusak oleh plasmodium. Anemia dapat membuat produktivitas pekerja tidak optimal, serta mempengaruhi kecerdasan pada bayi dan anak usia sekolah.

Di daerah endemik, malaria menyebabkan bayi lahir dengan bobot rendah maupun lahir mati. Pada kehamilan bisa memicu anemia berat, yang turut menyumbang kasus kematian ibu hamil.

Malaria menjadi masalah yang sulit untuk ditanggani karena berbagai alasan. Berikut beberapa alasan mengapa malaria sulit dibasmi antara lain :

1. Parasit malaria hidup di dua tubuh makhluk hidup
Parasit malaria dapat bertahan hidup pada dua tubuh makhluk hidup, yaitu manusia sebagai tuan rumah yang menderita atau inang dan nyamuk Anopheles betina, hewan yang menyebarkan penyakit.

Hal ini membuat pengendalian malaria harus melibatkan tiga makhluk hidup, yaitu parasit itu sendiri, manusia dan nyamuk penyebar parasit.

2. Parasit malaria memiliki kemampuan besar untuk melarikan diri dari pertahanan manusia
Parasit malaria memliki sistem kekebalan tubuh yang kuat dan dapat bertahan dalam tubuh inang selama bertahun-tahun tanpa merugikan diri sendiri dan menyebar melalui nyamuk. Ini yang menjadi salah satu alasan mengapa vaksin terhadap malaria mungkin tidak efektif.

3. Obat antimalaria belum mampu mengendalikan parasit malaria
Obat antimalaria lini pertama yang murah dan aman, tidak begitu efektif di berbagai belahan dunia. Sedangkan obat yang baru masih sangat sedikit, mahal (untuk sebagian besar populasi yang menderita malaria) dan lebih toksik (beracun atau tidak aman).

4. Host atau manusia selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain
Manusia sebagai host (tuan rumah yang menderita malaria) selalu bergerak dan berpindah, membuat penyebaran malaria menyebar dari orang satu ke orang lainnya, tempat ke tempat lainnya, bahkan lintas benua.

5. Nyamuk sebagai pembawa parasit sangat banyak dan lebih beradaptasi dari manusia
Jumlah nyamuk setidaknya 40 kali lipat dibandingkan manusia. Mereka dapat hidup di banyak tempat seperti genangan air dan di sekitar pemukiman manusia. Beberapa nyamuk bahkan telah mengembangkan resistensi terhadap insektisida (pembasmi serangga).

Selain itu, untuk di Indonesia sendiri, beberapa alasan sulitnya memberantas malaria, yaitu:

  1. Perusakan lingkungan yang menyebabkan meluasnya tempat perindukan nyamuk
  2. Perpindahan nyamuk untuk bekerja dari tempat non endemis ke tempat endemis malaria
  3. Adanya krisis ekonomi dan terbatasnya dana menyebabkan kurangnya sumber daya (tenaga, sarana, biaya operasional dll)
  4. Kemiskinan dan kurang nutrisi menyebabkan lemahnya sistem imunitas
  5. Adanya resistensi parasit terhadap obat antimalaria yang ada (kloroquin)
  6. Resistensi nyamuk terhadap insektisida.

“Untuk itu malaria di Indonesia harus tetap diwasadai karena adanya migrasi penduduk dari daerah endemis rendah ke yang tinggi atau sebaliknya, ada perubahan lingkungan seperti pembabatan hutan, galian pasir, tambak, perkebunan (sawit, karet, salak dll) dan pertanian dengan sistem irigasi yang kurang baik, adanya resistensi obat antimalari kloroquin, resistensi terhadap insektisida serta ada faktor sosio ekonomi seperti kemiskinan, ketidaktahuan, serta faktor finansial untuk pengendalian malari secara tuntas.

Ada pula faktor geografis yang sulit dan ketersediaan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan untuk daerah DTPK (Daerah Terpencil Perbatasan Kepulauan) terutama di wilayah Indonesia Timur.

Iklan

Untuk peningkatan sumber daya manusia bagi petugas kesehatan dalam pengendalian malaria, dilakukan pelatihan dasar malaria yang bertujuan eliminasi malaria 2030  di Indonesia dapat terwujud. Pelatihan dibuka oleh Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Ditjen PP dan PL, dr. Rita Kusriastuti, MSc. Pelatihan diselenggarakan di dua tempat yaitu di Jakarta dan di lampung dari tanggal 6-19 Maret 2011. Pelatihan diikuti oleh 29 peserta dari 17 provinsi yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kepri, Riau, Babel, Sumbar dan Lampung. Peserta pelatihan berasal dari pengelola program malaria di Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten/Kota.

Materi yang diberikan meliputi teori dan praktek sesuai dengan kurikulum, meliputi: Kebijakan Pengendalian Malaria, Epidemiologi Malaria, Penemuan Penderita Malaria, Survey Malaria, Pengobatan Penderita Malaria, Pemeriksaan Laboratorium,  Pengendalian Vektor, Pengenalan Vector Malaria, Teori dan Praktek IRS (Indoor Recidual Sprying), Larvaciding, Teori Dan Praktek Pemetaan Tempat Perindukan, Biological Control, Manajemen Lingkungan, Pengenalan Alat Semprot, Teknik Melatih Tenaga  Penyemprot, Surveilance Malaria, Pengumpulan, Pencatatan, Pengolahan dan Penyajian Data, Sistem Kewaspadaan Dini dan Penanggulangan KLB, Penyelidikan Epidemiologi, Perencanaan Malaria dan Studi Kasus serta Pemecahannya.
Kebijakan program malaria dalam mendukung eliminasi malaria adalah; diagnosa dini harus terkonfirmasi mikroskop atau RDT (rapid diagnostic test), penemuan dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt threatment/EDPT), pengobatan malaria positif dengan ACT (artemisinin combination therapy), pencegahan penularan melalui pendistribusian kelambu/LLIN, penyemprotan rumah, pengendalian lingkungan, penggunaan repelent  dan lain-lain, diadakan kerja sama lintas sektoral dan lintas program dalam forum gebrak (gerakan berantas kembali) malaria dan pemberdayaan masyarakat melalui pos malaria desa. 
Diharapkan dari pelatihan ini para peserta dapat mengimplementasikan ilmunya di daerah masing-masing sehingga target eliminasi malaria dapat tercapai sesuai dengan yang direncanakan.

Indonesia telah berhasil menekan jumlah kasus malaria dari 4,96 per 1.000 penduduk pada tahun 1990 menjadi 1,96 per 1.000 penduduk pada tahun 2010. Walaupun secara nasional telah berhasil menurunkan lebih 50 persen kasus malaria, tetapi pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih terjadi disparitas (perbedaan) yang cukup besar, kata Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH, pada puncak peringatan Hari Malaria Sedunia tanggal 25 April 2011 di Jakarta. Menurut Menkes, Indonesia telah menargetkan eliminasi malaria secara bertahap. Eliminasi artinya di daerah tersebut angka kasus malaria positif (API= Annual Parasite Incidence) kurang dari 1 permil (<1 per 1.000 penduduk).

Untuk wilayah Provinsi DKI Jakarta, khususnya Kab. Kepulauan Seribu saat ini dalam proses persiapan memasuki tahap eliminasi malaria disusul Provinsi Bali dan Pulau Batam.

Pada tahun 2015 ditargetkan Provinsi Aceh, Kepulauan Riau dan Pulau Jawa. Pada tahun 2020 untuk seluruh wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan NTB. Selanjutnya pada tahun 2030 wilayah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan NTT, sehingga seluruh Indonesia akan bebas malaria pada tahun 2030.

Menkes menyampaikan empat pesan sebagai pedoman eliminasi malaria. Pertama, eliminasi malaria merupakan salah satu prestasi masyarakat dan pemerintah dalam menyiapkan insan pembangunan. Sehingga dukungan berupa PERDA merupakan wujud nyata. Kedua, eliminasi malaria menjadi tanggung jawab semua pihak, oleh karena itu peran serta aktif masyarakat dalam upaya kesehatan secara promotif dan preventif harus terus ditingkatkan karena mencegah lebih baik dari pada mengobati. Ketiga, manfaatkan pemberdayaan masyarakat secara optimal melalui Desa Siaga dan Kelurahan Siaga Aktif, Posyandu, dan Pos Malaria Desa dalam upaya penyuluhan untuk pencegahan penyakit malaria. Keempat, optimalkan tiga pilar utama pengendalian malaria yaitu Stop Malaria Klinis dengan malaria konfirmasi, Stop Klorokuin gunakan Artesunate Combination Therapy (ACT) dan Cegah Malaria dengan menggunakan kelambu berinsektisida

Pada puncak peringatan Hari Malaria Sedunia 2011 dengan tema “Bebas Malaria Investasi Bangsa”, dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerjasama Kementerian Kesehatan dengan Pusat Kesehatan TNI, penyerahan Standard Operational Procedure (SOP) Pengendalian Malaria di lingkungan POLRI, penyerahan Pernyataan Dukungan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dalam tata laksana kasus malaria dan penyerahan ucapan terima kasih kepada tokoh masyarakat yang berkontribusi dalam pengendalian malaria.

Keterlibatan berbagai lintas sektor merupakan wujud nyata komitmen bersama untuk mengeliminasi malaria. “Momentum ini pertanda baik, karena TNI, POLRI dan IDI bersama masyarakat secara serentak akan memberikan dukungan. Untuk itulah, kami atas nama Kementerian Kesehatan menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala peran dan partisipasinya”, ujar Menkes.

Menkes menambahkan, penyakit Malaria merupakan salah satu penyakit re-emerging yang masih menjadi ancaman masyarakat, terkait masih tingginya angka kesakitan dan angka kematian pada usia produktif akibat malaria. Bahkan penyakit malaria juga berpengaruh pada kualitas kesehatan bayi, anak balita dan ibu hamil.

“Di beberapa wilayah prevalensi ibu hamil dengan malaria sebesar 18 persen, sehingga bayi yang dilahirkan memiliki risiko berat badan lahir rendah (BBLR) dua kali lebih besar dibandingkan ibu hamil tanpa malaria. Selain itu masih seringnya Kejadian Luar biasa yang dilaporkan oleh kabupaten/kota”, ujar Menkes.

Data WHO menyebutkan tahun 2010 terdapat 544.470 kasus malaria positif di Indonesia, sedangkan pada tahun 2009 terdapat 1.100.000 kasus malaria klinis, dan pada tahun 2010 meningkat lagi menjadi 1.800.000 kasus malaria klinis dan telah mendapatkan pengobatan.

HARI MALARIA SEDUNIA KAB. KAYONG UTARA

( LAPORAN PROGRAM MALARIA DINKES KKU TAHUN 2010 )

Bidan di desa, dapat mendekatkan pelayanan secara terintegrasi dalam pemeriksaan kehamilan, skrining terhadap malaria dan pengobatan di daerah terpencil dan endemis malaria. Karena itu bidan mempunyai peran sangat besar dalam pengendalian malaria terutama yang dialami ibu hamil, kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, pada pembukaan Pertemuan Internasional MIP (Malaria in Pregnancy) atau Malaria dalam kehamilan di Bali tanggal 24 Februari  2010.

Kelompok kerja MIP adalah kelompok para ahli yang adalah negara-negara endemis malaria di dunia seperti regional Afrika, regional Asia Pasifik.

Indonesia saat ini telah melaksanakan kegiatan terintegrasi ”pencegahan dan pengobatan malaria pada ibu hamil di provinsi endemis malaria dengan melaksanakan pelatihan bagi para bidan di provinsi/ kabupaten/kota. Bidan yang dilatih adalah para bidan yang bertugas di Puskesmas dan bidan di desa agar mampu melakukan skrining dengan penggunaan RDT pada kunjungan pertama ANC (Ante Natal Care), penggunaan ACT (Artemisnin Combination Therapy) obat anti malaria dan penggunaan kelambu berinsektisida”, ujar Prof. Tjandra.

”Kegiatan terintegrasi ini selain untuk mendukung pencapaian target MDG’s No 4 – 5, yaitu menurunkan angka kematian ibu dan bayi juga  dalam rangka menuju Indonesia bebas malaria”, kata Prof. Tjandra Yoga.

Menurut Dirjen P2PL, malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di banyak negara, khususnya di wilayah sub-sahara Afrika. Setiap tahun terdapat 300-500 juta orang yang terinfeksi malaria. Dari jumlah itu,  kira-kira 1,5-2 juta mengalami kematian, sebagian besar diantaranya wanita hamil, bayi dan balita.  Sedangkan di Indonesia terdapat sekitar 95.000 ibu hamil terkena malaria (SKRT, 2001).

Pertemuan yang berlangsung sampai 27 Februari,  dihadiri para pakar kesehatan ibu dari WHO Pusat (Geneva), WHO Indonesia, RBM (Roll Back Malaria) Geneva, Unicef, MPS (Make Pregnancy Safer) Geneva, MIP JHPIEGO, RAOPAG/Afrika, MIPESA/Tanzania, ACT Malaria, Kamboja, Brazil, Solomon, Thailand, Kenya, Mozambique, PNG, juga peserta dari beberapa Universitas Notredame, USA, Queensland (Australia).

Peserta dari Indonesia yaitu  RS di Papua (Abepura, Timika), NTT, POGI, IBI, Eijkman dan unit terkait Kementerian Kesehatan (Direktorat Kesehatan Ibu, Direktorat Kesehatan Anak,   Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang dan Badan Litbangkes).

Dalam pertemuan ini membahas: Informasi terkini malaria dalam kehamilan di wilayah Asia-Pasifik dan Afrika dan identifikasi hambatan dan tindakan dalam pengembangan penanganan malaria dalam kehamilan, memperkuat kerjasama antara program malaria dan program kesehatan reproduksi serta kemitraan secara nasional dan internasional.

Juga bertukar pengalaman antara negara mengenai pengobatan, pencegahan malaria dalam kehamilan, pencegahan bagi ibu hamil dengan penggunaan kelambu berinsektisida, obat anti malaria. Selain itu juga digunakan untuk menjalin kerja sama antara program pengendalian malaria dan program kesehatan reproduksi, penelitian dan dukungan masyarakat /organisasi internasional.

Dirjen P2PL Kementerian Kesehatan mengharapkan pertemuan ini memberi sumbangsih penting bagi penanggulangan malaria di dunia.

Bidan di desa, dapat mendekatkan pelayanan secara terintegrasi dalam pemeriksaan kehamilan, skrining terhadap malaria dan pengobatan di daerah terpencil dan endemis malaria. Karena itu bidan mempunyai peran sangat besar dalam pengendalian malaria terutama yang dialami ibu hamil, kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, pada pembukaan Pertemuan Internasional MIP (Malaria in Pregnancy) atau Malaria dalam kehamilan di Bali tanggal 24 Februari  2010.

Kelompok kerja MIP adalah kelompok para ahli yang adalah negara-negara endemis malaria di dunia seperti regional Afrika, regional Asia Pasifik.

Indonesia saat ini telah melaksanakan kegiatan terintegrasi ”pencegahan dan pengobatan malaria pada ibu hamil di provinsi endemis malaria dengan melaksanakan pelatihan bagi para bidan di provinsi/ kabupaten/kota. Bidan yang dilatih adalah para bidan yang bertugas di Puskesmas dan bidan di desa agar mampu melakukan skrining dengan penggunaan RDT pada kunjungan pertama ANC (Ante Natal Care), penggunaan ACT (Artemisnin Combination Therapy) obat anti malaria dan penggunaan kelambu berinsektisida”, ujar Prof. Tjandra.

”Kegiatan terintegrasi ini selain untuk mendukung pencapaian target MDG’s No 4 – 5, yaitu menurunkan angka kematian ibu dan bayi juga  dalam rangka menuju Indonesia bebas malaria”, kata Prof. Tjandra Yoga.

Menurut Dirjen P2PL, malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di banyak negara, khususnya di wilayah sub-sahara Afrika. Setiap tahun terdapat 300-500 juta orang yang terinfeksi malaria. Dari jumlah itu,  kira-kira 1,5-2 juta mengalami kematian, sebagian besar diantaranya wanita hamil, bayi dan balita.  Sedangkan di Indonesia terdapat sekitar 95.000 ibu hamil terkena malaria (SKRT, 2001).

Pertemuan yang berlangsung sampai 27 Februari,  dihadiri para pakar kesehatan ibu dari WHO Pusat (Geneva), WHO Indonesia, RBM (Roll Back Malaria) Geneva, Unicef, MPS (Make Pregnancy Safer) Geneva, MIP JHPIEGO, RAOPAG/Afrika, MIPESA/Tanzania, ACT Malaria, Kamboja, Brazil, Solomon, Thailand, Kenya, Mozambique, PNG, juga peserta dari beberapa Universitas Notredame, USA, Queensland (Australia).

Peserta dari Indonesia yaitu  RS di Papua (Abepura, Timika), NTT, POGI, IBI, Eijkman dan unit terkait Kementerian Kesehatan (Direktorat Kesehatan Ibu, Direktorat Kesehatan Anak,   Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang dan Badan Litbangkes).

Dalam pertemuan ini membahas: Informasi terkini malaria dalam kehamilan di wilayah Asia-Pasifik dan Afrika dan identifikasi hambatan dan tindakan dalam pengembangan penanganan malaria dalam kehamilan, memperkuat kerjasama antara program malaria dan program kesehatan reproduksi serta kemitraan secara nasional dan internasional.

Juga bertukar pengalaman antara negara mengenai pengobatan, pencegahan malaria dalam kehamilan, pencegahan bagi ibu hamil dengan penggunaan kelambu berinsektisida, obat anti malaria. Selain itu juga digunakan untuk menjalin kerja sama antara program pengendalian malaria dan program kesehatan reproduksi, penelitian dan dukungan masyarakat /organisasi internasional.

Dirjen P2PL Kementerian Kesehatan mengharapkan pertemuan ini memberi sumbangsih penting bagi penanggulangan malaria di dunia.

Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia. Penyakit ini mempengaruhi tingginya angka kematian ibu hamil, bayi dan balita. Setiap tahun lebih dari 500 juta penduduk dunia terinfeksi malaria dan lebih dari 1.000.000 orang meninggal dunia. Kasus terbanyak terdapat di Afrika dan beberapa negara Asia termasuk Indonesia, Amerika Latin, Timur Tengah dan beberapa bagian negara Eropa.

Sedangkan di Indonesia, sampai tahun 2009, sekitar 80% Kabupaten/Kota masih termasuk katagori endemis malaria dan sekitar 45% penduduk bertempat tinggal di daerah yang berisiko tertular malaria.Sementara jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 2009 sebanyak 1.143.024 orang. Jumlah ini mungkin lebih kecil dari keadaan yang sebenarnya karena lokasi yang endemis malaria adalah desa-desa yang terpencil dengan sarana transportasi yang sulit dan akses pelayanan kesehatan yang rendah.

Untuk mengatasi malaria, pada pertemuan WHA 60 tanggal 18-23 Mei 2007 telah disepakati komitmen global tentang eliminasi malaria setiap negara dan merekomendasikan bagi negara-negara yang endemis malaria memperingati Hari Malaria Sedunia setiap tanggal 25 April. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja dalam menuju eliminasi malaria serta meningkatkan kepedulian dan peran aktif masyarakat dalam penanggulangan dan pencegahan malaria.

Tahun ini merupakan tahun ketiga peringatan Hari Malaria Sedunia dengan tema ”BERSAMA KITA BERANTAS MALARIA”. Tujuannya untuk meningkatkan kemitraan dalam mencapai eliminasi malaria di Indonesia. Selain itu juga untuk meningkatnya kesadaran para mitra untuk berperan aktif dalam eliminasi malaria, meningkatnya komitmen para penentu kebijakan di Pusat dan Daerah untuk melakukan eliminasi malaria, serta meningkatnya kemitraan dalam kegiatan eliminasi malaria.

Peringatan Hari Malaria Sedunia (HMS) tahun 2010 diharapkan dapat lebih meningkatkan advokasi, edukasi dan sosialisasi kepada semua stakeholder dan masyarakat sehingga eliminasi malaria dapat segera dicapai. Mengingat malaria merupakan masalah yang komplek terkait dengan aspek penyebab penyakit (parasit), lingkungan (fisik dan biologis) dan nyamuk sebagai vektor penular maka eliminasi malaria harus dilaksanakan secara bersama dengan para mitra terkait dan menjadi bagian integral dari pembangunan nasional.

Peringatan HMS Tahun 2010 diisi dengan berbagai kegiatan di Pusat maupun Daerah, diantaranya Workshop Nasional tentang Penelitian Malaria di Indonesia tanggal 10 Mei 2010, Workshop Pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Eliminasi Malaria tanggal 18 Mei 2010. Sedangkan pada puncak acara akan dilakukan peresmian Malaria Center di Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara oleh Menteri Kesehatan tanggal 24 April 2010.

Sebaran malaria dibedakan menjadi daerah non endemis dan endemis. Daerah dikatakan non endemis bila di daerah itu tidak terdapat penularan malaria atau angka kejadian malaria (Annual Parasite Incident = API ) nol. Termasuk daerah non endemis adalah provinsi DKI Jakarta, Bali, dan Kepri (Barelang Binkar).

Sedangkan daerah endemis malaria dibedakan menjadi endemis tinggi, endemis sedang dan endemis rendah.

Dikatakan endemis tinggi bila API-nya lebih besar dari 50 per 1.000 penduduk yaitu di Provinsi Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Sumatera Utara (Kab. Nias dan Nias Selatan), dan NTT.

Endemis Sedang bila API-nya berkisar antara 1 sampai kurang dari 50 per 1.000 penduduk yaitu di provinsi Aceh (Kab. Siemeulu), Bangka Belitung, Kepri (Kab. Lingga), Jambi (Kab. Batang Hari, Merangin, dan Sorolangun), Kalimantan Tengah (Kab. Sukamara, Kota waringin barat), Mura), Sulteng (Kab. Toli-toli, Banggai, Banggai Kepulauan, Poso), Sultra (Kab. Muna), NTB (Sumbawa Barat, Dompu, Kab.Bima, dan Sumbawa), Jawa Tengah (Wonosobo, Banjarnegara, Banyumas, Pekalongan dan Sragen), Jawa Barat (Sukabumi, Garut, dan Ciamis).

Endemis rendah bila API-nya 0 – 1 per 1.000, diantaranya sebagian Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Upaya pemerintah dalam program pengendalian malaria yaitu Diagnosa Malaria harus terkonfirmasi mikroskop atau Rapid Diagnostic Test; Pengobatan menggunakan Artemisinin Combination Therapy; Pencegahan penularan malaria melalui: distribusi kelambu (Long Lasting Insecticidal Net), Penyemprotan rumah, repellent, dan lain-lain; Kerjasama Lintas Sektor dalam Forum Gebrak Malaria; dan Memperkuat Desa Siaga dengan pembentukan Pos Malaria Desa (Posmaldes).

Seseorang yang terkena malaria dapat mengalami anemia. Pada kasus malaria berat dapat menyebabkan koma, kegagalan multi organ serta menyebabkan kematian.Namun malaria dapat dicegah.

Cara mencegah malaria yaitu dengan menghindari gigitan nyamuk malaria diantaranya dengan tidur di dalam kelambu, mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk (Repelent); membersihkan tempat-tempat hinggap/istirahat nyamuk dan memberantas sarang nyamuk; membunuh nyamuk dewasa dengan menyemprot rumah-rumah dengan racun serangga; membunuh jentik-jentik nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan jentik; membunuh jentik nyamuk dengan menyempot obat anti larva (jentik) pada genangan air dan melestarikan hutan bakau di rawa-rawa sepanjang pantai

%d blogger menyukai ini: